RADARSEMARANG.ID, Semarang - Menjelang hari kesehatan mental sedunia pada 10 Oktober 2025. Apa kamu sudah peduli pada kesehatan mental dalam dirimu?
Tentunya kamu harus lebih mengenal dirimu dibandingkan orang lain. Baik kesehatan secara fisik ataupun batin. Sebagian orang terlihat tidak peduli apa yang dirasakan pada dirinya.
Terkadang seseorang sadar jika dirinya sakit, namun sering menyepelekan, dan menunda pengobatan hingga bisa semakin parah, begitu pula kesehatan mental.
Kamu harus mulai mengenal berbagai macam kesehatan mental. Anak remaja zaman sekarang pun sudah banyak yang kesehatan mentalnya mulai terganggu.
Tentunya karena beberapa penyebab, diantaranya
- Mengalami trauma yang signifikan, seperti kecelakaan serius atau tindakan kriminal lainnya.
- Tinggal di lingkungan rumah yang buruk.
- Stres berat yang terjadi dalam kurun waktu yang lama.
- Mengalami diskriminasi dan stigma.
- Adanya riwayat kekerasan saat masa anak-anak.
- Adanya kelainan bawaan atau cedera pada otak.
- Gangguan pada fungsi sel saraf di otak.
- Kerusakan otak akibat terbentur atau kecelakaan.
Dari penyebab bisa terjadinya gangguan kesehatan mental seseorang dapat dilihat dari gejalanya, seperti
- Ketidakmampuan untuk mengatasi stres.
- Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
- Menarik diri dari orang-orang dan kegiatan sehari-hari.
- Berteriak atau berkelahi dengan keluarga dan teman.
- Mengalami delusi, paranoia, atau halusinasi.
- Mendengar suara atau mempercayai sesuatu yang tidak benar.
- merasa bingung, pelupa, marah, tersinggung, cemas, kesal, khawatir, dan takut yang tidak biasa.
- Kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi.
- Ketakutan, kekhawatiran, atau perasaan bersalah yang selalu menghantui.
Baca Juga: Sarana Pelajar Berlatih Kerajinan Tangan dan Bidang UMKM
Pada remaja, masalah kesehatan mental yang sering berdampak adalah PTSD, conduct disorder, anxiety disorders, depresi, bipolar. Mari kita bahas satu-satu.
1. PTSD
Post traumatic stress disorder, merupakan gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang bersifat traumatis.
Peristiwa yang diketahui paling sering memicu PTSD ini seperti kecelakaan, bencana alam, bullying, kekerasan fisik, pelecehan seksual.
Bila muncul ingatan yang memicu trauma hingga mengganggu aktivitas, segera konsultasikan ke dokter.
2. Conduct Disorder
Gangguan emosi dan perilaku yang menyebabkan anak berkelakuan agresif, tidak mau mengikuti aturan, serta kasar. Dapat terjadi secara berulang, dalam kurun waktu yang lama, sampai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Keadaan ini dapat dialami sebelum anak menginjak usia 10 tahun, tetapi lebih sering terjadi pada remaja usia 10-19 tahun. Gangguan ini lebih sering dialami oleh laki-laki.
Penyebab terjadinya:
- Faktor genetik, mempunyai riwayat gangguan emosi dalam keluarga.
- Faktor biologis, kelainan pada otak yang berfungsi dalam pengaturan perilaku, kontrol impuls, serta emosi.
- Faktor lingkungan, pola asuh orang tua yang kurang tepat.
- Faktor psikologis, gangguan mental pada anak seperti skizofrenia, depresi, gangguan bipolar, gangguan kepribadian.
Baca Juga: Air Mata Ahmad Luthfi Jatuh Saat Puisi Rindu Cahaya Dibacakan
3. Anxiety Disorder
Gangguan kecemasan merupakan perasaan khawatir yang tidak dapat dikendalikan dan berlebihan. Tanda yang dapat dikenali dari gangguan kecemasan ini berupa keringat berlebihan, jantung yang berdebar lebih kencang, hingga sulit bernapas.
Adapun faktor yang bisa memicu adanya gangguan kecemasan ini adalah
- Faktor genetik.
- Aktivitas berlebihan pada area otak.
- Memiliki riwayat kejadian traumatis.
4. Depresi
Gangguan yang memengaruhi perasaan, cara berpikir, serta cara bertindak seseorang. Gejala yang paling umum dirasakan adalah merasa sedih dan kehilangan minat untuk melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Depresi bisa terbagi menjadi beberapa jenis depresi mayor, distimia, gangguan bipolar, depresi postpartum, premenstrual dysphoric disorder, depresi atipikal, psychotic depression.
Jika kamu merasa ada yang aneh dari dirimu kamu bisa mengonsultakikannya ke dokter agar tidak salah diagnosis, yuk mulai sayangi diri dan kesehatan mentalmu (mg31)
Editor : Baskoro Septiadi