RADARSEMARANG.ID, Dalam podcast di Channel YouTube Kasisolusi berjudul "JANGAN CUMA BIKIN RESEP, TAPI MANAJEMEN GOBLOK!" INI CARA KING ABDI BIKIN F&B LADANG CUAN MILYARAN".
Tayangang yang diupload pada 11 April 2025 dan saat artikel ditulis telah ditonton 533.119 kali, King Abdi berbagi lebih dari sekadar kiat sukses bisnis kuliner.
Ia membuka kisah perjuangan melawan diabetes dengan kadar gula darah pernah mencapai 700, yang mendorongnya mengambil langkah ekstrem: operasi bypass lambung.
Berikut perjalanan inspiratifnya menuju hidup lebih sehat.
Bahaya Mukbang dan Dampaknya
King Abdi, yang dikenal melalui MasterChef Indonesia dan konten mukbang-nya, mengaku pekerjaannya di dunia kuliner membawa konsekuensi berat.
“Mukbang itu pekerjaan paling berbahaya,” katanya.
Kadar gula darahnya yang melonjak hingga 700 dan kolesterol tinggi membuatnya menghadapi komplikasi serius, termasuk kebutaan sementara yang mengharuskannya operasi mata.
“Saya sempat buta karena gula,” ungkapnya dengan nada serius.
Baca Juga: Vanja Bukilic Cedera, Opsi Apa yang Akan Diambil Pelatih Red Sparks Ko Hee Jin?
Tak hanya itu, Abdi juga pernah mengalami cedera parah saat umrah di Makkah.
Kakinya patah dan terluka akibat terinjak di suhu 50 derajat Celsius, hingga kulitnya harus “dikuliti” untuk penyembuhan.
“Luka diabetes bisa sembuh kalau dirawat dokter ahli. Yang busuk itu karena kotor dan dibiarkan,” jelasnya, membantah mitos bahwa luka diabetes selalu berujung amputasi.
Kegagalan Diet dan Sinyal Lapar Berlebih
Abdi telah mencoba berbagai cara untuk mengendalikan berat badan dan gulanya, mulai dari intermittent fasting, menghindari nasi selama setahun, hingga konsultasi dengan dokter gizi, termasuk dibantu sahabat seperti Gilang dari Juragan 99 dan Mbak Sandi.
Namun, berat badannya yang berfluktuasi antara 108-121 kg tak kunjung stabil. “Badanku ini kenapa, enggak tahu,” katanya frustrasi.
Masalah utamanya adalah lambung yang terus mengirim sinyal lapar meski kebutuhan nutrisi sudah terpenuhi.
“Tiga-empat sendok sebenarnya cukup, tapi lambung bilang lapar,” ujarnya.
Setelah berbagai upaya gagal, Abdi memilih operasi bariatric bypass, sebuah prosedur yang mengurangi 85% lambungnya dan memotong 3,5 meter usus, menyisakan saluran pencernaan hanya 3 meter.
Hidup Baru Pasca-Bypass
Operasi ini mengubah hidup Abdi drastis. Kini, ia hanya bisa mengonsumsi satu sendok air setiap lima menit.
Meski menantang, prosedur ini membantu menstabilkan gula darah dan mengurangi nafsu makan.
“Saya sehat sekarang, alhamdulillah,” katanya penuh syukur.
Keputusan ini sempat menuai kritik. Ada yang menyebutnya tidak mensyukuri tubuh pemberian Tuhan.
Namun, Abdi menegaskan bahwa ini adalah ikhtiar untuk hidup lebih lama demi keluarganya.
“Saya pengin punya anak lagi. Gula akut bikin susah punya anak,” ujarnya, mengungkap motivasinya yang personal.
Dengan satu anak saat ini, ia berharap bisa menambah keluarga di masa depan.
Mitos Diabetes dan Pentingnya Perawatan
Abdi juga meluruskan kesalahpahaman tentang diabetes. Ia menjelaskan bahwa tidak ada istilah diabetes “basah” atau “kering” seperti yang diyakini banyak orang.
“Dokter bilang, diabetes saya karena pola hidup, bukan turunan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kedekatan dengan dokter untuk mencegah komplikasi.
“Luka saya di Makkah sembuh karena dirawat baik. Kalau kotor dan dibiarkan, itu yang bahaya,” tambahnya.
Proses penyembuhan lukanya sendiri membutuhkan ketelitian, dengan dokter menggunakan pisau medis untuk membersihkan jaringan hingga kulit baru terbentuk.
“Diabetes enggak menyeramkan kalau kamu tahu caranya,” tegasnya.
Langkah ke Depan dengan Harapan
Kini, Abdi menjalani hidup baru dengan penuh optimisme. Operasi bypass lambung bukan akhir, melainkan awal untuk hidup lebih sehat.
Dukungan dari komunitas dan konsultasi medis menjadi kunci keberhasilannya.
Kisahnya adalah pengingat bahwa kesehatan adalah investasi terbesar, terutama bagi mereka yang ingin tetap bersama orang-orang tercinta lebih lama.
“Semoga ikhtiar ini bikin saya lebih sehat dan bisa punya anak lagi,” tutup Abdi dengan senyum penuh harap.
Kisahnya menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah, bahkan di tengah tantangan kesehatan terberat sekalipun. (tas)
Editor : Tasropi