PUPUT PUSPITASARI, Magelang
TIDAK semua ular seseram yang dibayangkan. Tapi waspada tetap perlu, sekalipun ular itu bisa jinak. Apalagi dengan ular-ular yang hidup bebas di alam liar. Tidak boleh dipegang sembarangan.
Akibatnya bisa fatal. Kondisi terparah, berujung pada kematian. Itulah yang ingin disampaikan David Triyono—Ketua Paguyuban Sedulur Reptile Magelang.
“Memang tidak semua ular itu berbisa, tapi kalau ketemu ular di alam, nggak boleh asal pegang, nggak boleh asal comot. Semua ada prosedurnya,” kata David, kemarin.
Kopdar di Alun-alun Kota Magelang menjadi jembatan komunikasi para pecinta reptil dengan masyarakat. Ia mengenalkan berbagai jenis ular yang bisa dijadikan hewan peliharaan.
Yang paling sering dibawa ke alun-alun adalah jenis piton. Selain di alun-alun, komunitasnya sering mengisi kelas di sekolah-sekolah.
Walaupun ular-ular itu lepas kandang dan bertemu dengan banyak orang, kata David, ular-ular tersebut tidak mengalami stres. Asal tidak disakiti. Ular-ular yang dibawa dalam kondisi kenyang.
Ia memberi makan ular setiap dua pekan atau per 20 hari, tergantung ukuran dan usia ular.
“Kalau panjangnya 3 meteran, bisa habis 2-5 kilogram ayam per dua pekan,” jelas warga Potrobangsan, Kota Magelang itu.
Menghindari ular yang stres, kata David, ular-ular harus ditaruh kandang yang terjaga kebersihannya. Kemudian ukuran kandangnya lega untuk tubuh ular bergerak.
Menurutnya, ular bisa terserang pilek. Obat alternatifnya si ular direndam pada air daun sirih yang hangat. Kemudian dijemur. Jika terjadi luka lecet pada bagian tubuh ular, bisa diberikan obat merah antiseptik.
Selain berbagi cerita soal ular, jenis reptil lain yang dikenalkan seperti biawak. Binatang dari kelompok kadal itu bisa menjadi hewan jinak.
Anggota komunitas Muhammad Naufal Rofi menuturkan, biawak juga bisa menjadi teman main. Bisa digendong, bisa diajak jalan-jalan, tapi masih bisa menggigit kalau sedang marah atau merasa terganggu.
“Tapi yang orang nggak banyak tahu, sejak biawak menetas, dia sudah bisa cari makan sendiri. Jiwa survival-nya sudah dari baby,” ungkap remaja 15 tahun ini.
Biawak juga bukan hewan yang boros soal makan. Cukup diberikan makan setiap dua hari sekali ketika masih kecil. Beranjak besar, intensitas pemberian makan dikurangi menjadi seminggu sekali.
“Biar nggak kena obesitas. Kasihan kalau badannya kebesaran, dia susah jalan,” tuturnya.
Kata siswa SMP Negeri 1 Mungkid itu, perawatan biawak tergolong mudah. Kata Naufal, hanya perlu sering direndam dan dijemur.
“Itu sudah cukup,” imbuhnya.
Bergabungnya Naufal di komunitas reptil juga bertujuan. Ia ingin dengan mudah mengedukasi dan meminta masyarakat untuk tidak memburu biawak untuk kebutuhan konsumsi. Kenyataan ini membuatnya pilu.
Biawak yang seharusnya bisa menjadi penyeimbang rantai makanan, kerap diburu untuk mengenyangkan perut manusia. Dibuat rica-rica, ada juga yang mengolahnya menjadi sate.
“Padahal biawak itu makan tikus, dia bisa membantu petani dalam mengendalikan hama tikus,” ujar warga Blabak, Ambartawang, Kabupaten Magelang itu.
Paguyuban Sedulur Reptile Magelang yang baru berdiri tahun 2020 itu pun memiliki harapan besar. Masyarakat peduli terhadap kelestarian satwa di Indonesia. Komunitas ini pun mengajak masyarakat untuk bergabung agar semakin banyak yang memahami dunia reptil.
Saat ini, anggota aktif komunitas ini berjumlah 40-an orang. Hewan reptil yang dipelihara juga beragam. Selain ular dan biawak, ada gecko, iguana, soa layar, kura-kura, dan lainnya. (*/aro) Editor : Agus AP