RADARSEMARANG.ID – Gaya busana vintage kembali mencuri perhatian di kalangan anak muda.
Pakaian dengan potongan klasik, warna-warna lawas, hingga motif khas era 1970–1990-an kini semakin sering terlihat dikenakan di ruang publik, mulai dari kampus, kafe, hingga berbagai acara kreatif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa busana tak lagi sekadar soal tren, tetapi juga menjadi medium pencarian identitas diri.
Di sejumlah kota, minat terhadap gaya vintage terlihat dari ramainya toko pakaian secondhand dan thrift shop.
Jaket denim lawas, kemeja oversized, celana cutbray, hingga tas dan aksesori jadul menjadi incaran generasi muda.
Busana tersebut kemudian dipadukan dengan gaya modern, menciptakan tampilan yang unik dan berbeda dari arus utama fashion masa kini.
Bagi sebagian anak muda, memilih gaya vintage merupakan cara untuk tampil lebih personal.
Mereka tidak ingin sekadar mengikuti tren yang seragam, melainkan menunjukkan karakter dan selera masing-masing.
Setiap pakaian vintage dianggap memiliki cerita dan nilai sejarah tersendiri, sehingga memberi kesan lebih bermakna dibanding busana produksi massal.
Selain soal gaya, ketertarikan terhadap busana lama juga berkaitan dengan kesadaran akan isu lingkungan.
Di tengah maraknya budaya fast fashion, vintage dipandang sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan.
Menggunakan kembali pakaian lama dianggap dapat mengurangi limbah tekstil sekaligus menekan pola konsumsi berlebihan.
Media sosial turut berperan besar dalam menghidupkan kembali tren ini.
Berbagai konten OOTD bertema vintage yang beredar di platform seperti Instagram dan TikTok membuat gaya lawas semakin mudah diterima oleh generasi muda.
Influencer dan konten kreator kerap menampilkan mix and match busana vintage dengan sentuhan kekinian, sehingga terlihat relevan dengan gaya hidup masa kini.
Tak hanya memengaruhi cara berpakaian, tren vintage juga berdampak pada industri fashion.
Sejumlah brand lokal mulai mengadaptasi desain klasik ke dalam koleksi terbaru mereka.
Sementara itu, toko thrift dan pasar loak semakin berkembang sebagai ruang alternatif bagi anak muda untuk mengekspresikan diri melalui busana.
Kembalinya gaya vintage menegaskan bahwa fashion bukan sekadar mengikuti zaman, melainkan juga tentang bagaimana individu memaknai diri dan lingkungannya.
Di tangan generasi muda, busana lama mendapatkan arti baru sebagai simbol kebebasan berekspresi dan pencarian identitas di tengah arus modernitas. (mg1)
Editor : Baskoro Septiadi