
RADARSEMARANG.ID, Pemerintah saat ini tampak sangat progresif dalam urusan perut.
Program pemenuhan gizi nasional dan pengentasan stunting menjadi primadona kebijakan di berbagai daerah.
Namun, di balik ambisi mencetak generasi fisik unggul, ada pemandangan kontras yang luput dari sorotan: kondisi perpustakaan sekolah yang sekarat.
Kita sedang giat menyuapi raga anak bangsa, namun membiarkan pusat literasi mereka kelaparan asupan pengetahuan.
Bukti nyata dari minimnya kepedulian terhadap literasi ini terpampang jelas di banyak sekolah dasar.
Perpustakaan yang seharusnya menjadi jantung pendidikan, sering kali hanya menjadi ruang pengap di pojok bangunan yang jarang dikunjungi.
Kondisinya memprihatinkan; atap yang bocor, debu yang menebal di rak-rak tua, hingga ketiadaan koleksi bahan bacaan anak yang relevan.
Banyak perpustakaan sekolah hanya berisi tumpukan buku paket kurikulum usang yang membosankan, tanpa ada buku cerita bergambar, ensiklopedia populer, atau novel anak yang mampu memantik imajinasi.
Ironi ini menunjukkan bahwa pemerintah lupa bahwa gizi dan literasi harus tumbuh beriringan.
Memberi asupan protein tinggi tanpa menyediakan akses bacaan yang layak adalah investasi yang timpang.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

