Sekitar empat jam lamanya dari pukul 08.20 hingga 11.39, wartawan Jawa Pos Radar Semarang, turut berziarah di Makam Mbah Sholeh Darat. Makam ini berada di tengah Tempat Permakaman Umum (TPU) Bergota, Randusari, Semarang Selatan, Kota Semarang.
Makam ini termasuk dataran tinggi, ditambah banyak pepohonan yang tumbuh subur di area makam ditambah arsitektur joglo khas rumah Jawa. Namun ukurannya sekitar 20 meter persegi. Pada sudut bangunan ada 15 tonggak semen berdiri kokoh dengan cat putih. Atapnya dari genteng dengan pelapis asbes, dipasang tepat di atas sekat-sekat penyangga atap yang dicat cokelat.
Di dalam bangunan ada 20 makam dengan belasan pasang batu nisan yang juga dicat warna putih berjejer rapi. Tampak seperti barisan batu putih. Dari barisan batu nisan itu, ada dua makam ukurannya lebih besar dari ukuran makam lainnya. Inilah makam Mbah Sholeh Darat dan pesarehan istri ketiganya, Raden Ayu Siti Aminah.
Meski di tengah ribuan makam umum, makam Mbah Sholeh Darat tetap dikunjungi para peziarah saat malam hari. Empat bola lampu yang terpasang, sebagai penerangan di atas makam.
Sebagian bangunannya dikelilingi pagar besi dengan cat biru. Tingginya sekitar setengah bangunan. Tidak heran, ayam dan kucing masih bisa meloncati pagar makam. Pada pojok makam juga ada beberapa kitab suci Alquran yang disusun dalam lemari kecil. Ada pula pigura kaligrafi dengan ukuran cukup besar yang tertulis dalam bingkai kaca.
Namun untuk sampai ke makam Mbah Sholeh Darat dari lokasi parkir motor di pinggir jalan umum, harus menaiki 33 anak tangga yang letaknya tak berurutan untuk sampai lokasi makam. Kemudian di pintu masuk pertama ada sekitar empat kotak amal yang terpasang. Saat sudah memasuki area makam, ada lagi empat kotak amal.
Dengan sopan dan lembut, para juru kunci langsung menyambut tamu, layaknya tour guide di tempat wisata. Begitu memasuki makam, setiap tamu yang datang diminta mengisi buku tamu terlebih dahulu. Wartawan Jawa Pos Radar Semarang turut mengisi dan mencatat di urutan ke-21. “Diisi dulu mas daftar hadirnya. Baru memberikan iuran sukarela, taruh dalam amplopnya boleh,” kata juru kunci Sulasih, sembari menunggu isian buku tamu. Juru kuncinya memang kebanyakan wanita.
Saat siang hari di area makam tersebut memang bertemu banyak juru kunci. Di antaranya ada Sulasih, Ida Budiarti, Supariyani, Sumiyati, Supriyanto, dan Lugi. Malam hari terkadang ada Budiarso.
“Juru kunci ada 10-an orang. Semuanya keturunan dari almarhum Mbah Sulaiman. Kalau Mbah Sulaiman meninggalnya sudah lama. Waktu itu, saya juga masih kecil,” kata juru kunci Ida Budiarti saat berbincang dengan wartawan Koran ini.
Saat ini, diakui Ida, kebanyakan juru kuncinya hanya perempuan. Ada beberapa di antaranya laki-laki. Tugasnya menjaga makam dan bersih-bersih makam. “Yang jaga itu, yang mau saja,” imbuhnya.
Selama pandemi Covid-19, memang cukup sepi peziarah. Biasanya bisa sampai ratusan orang yang berziarah. Selama pandemi, hanya sekitar 30 orang sehari.
“Kadang malam Minggu ramai bus-bus, parkir sampai padat. Kadang juga ada yang datang pukul 02.00 dinihari, ada juga yang pagi. Beragam waktunya, kan makam ini 24 jam,” kata Sulasih lagi.
Sepemahamannya, waktu yang kebanyakan peziarah datang adalah waktu Legi dan Jumat Kliwon, serta Syawalan maupun hari-hari besar umat Islam.
“Kalau mau Syawalan, banyak yang datang sampai full parkirannya. Cuma gara-gara Covid-19, Syawalan kemarin ditiadakan,” timpal Ida yang mengenakan jilbab biru.
Para peziarahnya juga beragam. Ada yang dari Kalimantan, Jakarta, Bandung, Jateng dan banyak lagi dari berbagai daerah di Indonesia. Terkait doa, diakuinya, tidak ada ketentuan khusus. Karena setiap peziarah memiliki doa dan niat masing-masing. Para peziarahnya juga beragam dari tua, muda, politisi, PNS, honorer, pejabat, pengusaha dan banyak lagi.
Beberapa tokoh yang pernah datang berziarah di makam Mbah Sholeh Darat ada Presiden RI ke-4 Almarhum Dr (HC) KH Abdurrahman Wahid dan Wakil Presiden RI ke-I Almarhum Dr (HC) H Mohammad Hatta, ulama kondang tanah air Ustad Prof H Abdul Somad Batubara, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan pesinetron Darti Manulang, serta banyak lagi.
Mbah Sholeh Darat yang merupakan guru KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan, juga dikenal masyarakat sebagai guru Raden Ajeng (RA) Kartini. Mbah Sholeh Darat lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada 1235 Hijriyah (1820) dengan nama lengkap Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani. Ayahnya, Kiai Umar merupakan pejuang kemerdekaan dan kepercayaan Pangeran Diponegoro di pesisir utara Jateng.
Menurut Wakil Ketua Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat (Kopisoda), M Rikza Chamami, masa kecil hingga remaja KH Sholeh Darat dihabiskan dengan belajar Alquran serta ilmu agama dari ayahnya. Seperti ilmu nahwu, shorof, akidah, akhlak, hadis dan fiqih. Setelah lepas masa remaja KH Sholeh Darat menimba ilmu ke sejumlah ulama di Jawa maupun ulama di luar negeri.
Di Makkah KH Sholeh Darat menimba ilmu agamanya pada para ulama seperti Syeikh Muhammad Al-Muqri Al-Mishri Al-Makki, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasballah dan Al-Allmah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (Mufti Madzab Syafi’iyah).
Selain itu juga Al Allamah Ahmad An-Nahawi Al-Mishri Al-Makki dan Sayyid Muhammad Sholeh Al-Zawawi Al-Makki, Kiai Zahid, Syeikh Umar A-Syami, Syeikh Yusuf al Sunbulawi Al–Mishri serta Syeikh Jamal yang juga seorang Mufti Madzab Hanafiyyah.
“Meski begitu, kesederhanaan menjadi salah satu keutamaan sosok Mbah Sholeh Darat. Banyak karya fenomenal seperti Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam berupa kitab yang khusus membahas persoalan fiqih. Penjelasan meliputi aspek hakikat dan ma’rifat. Masih banyak lagi kitab monumental lainnya,” jelasnya. (jks/ida)