RADARSEMARANG.ID – Pembawa acara Rico Ceper baru saja mengalami penipuan transfer uang senilai puluhan juta dengan modus kelebihan transfer.
Hal ini ia alami saat dirinya ditawari job menjadi Master of Ceremony (MC) di suatu acara yang diselenggarakan oleh Kementerian.
Kronologi penipuan ini diungkapkannya melalui wawancara live, yang diunggah di kanal YouTube Intens Investigasi, pada Jumat (02/02/2024).
Rico mengakui bahwa penipuan yang ia alami kali ini adalah pengalaman pertama baginya.
“Dari dulu gue tuh orangnya detail banget. Printilan banget. Gue ama manajemen sama istri, keluarga. Baru ini kali kena penipuan yang dahsyat,” ujarnya di awal wawancara.
Kronologi bermula ketika Rico mendapat panggilan telepon dari seseorang yang menawarinya job sebagai MC, yang kemudian ia alihkan segala urusannya dengan orang tersebut kepada tim manajemennya.
“Awalnya saya tanya, ini Bapak dari EO, vendor, atau dari karyawannya? Trus, katanya dari pegawai salah satu Kementerian-lah.”
Baca Juga: Kocak tapi Malu Abis! Wanita ini Curhat Dikira Bisu Gara-gara Pakai Earphone di Halte Bus
Penipu tersebut mengatakan bahwa acara akan dilaksanakan pada pagi hari. Rico setuju, serta mengatakan bahwa asistennya-lah yang akan meng-handle semuanya.
Setelah sang asisten menghubungi pihak yang mengaku dari Kementerian tersebut, terjadilah kesepakatan nominal honor yang akan diterima manajemen Rico, yaitu sebesar Rp 20 juta.
Penipu itu lantas mengatakan bahwa mereka bersedia membayar DP setengahnya terlebih dahulu, yaitu Rp 10 juta.
Namun ketika sudah transfer, mereka mengaku bahwa uang yang ditransfer kelebihan, bukan separuh dari nominal yang telah disepakati.
“’Kita DP dulu ya? Setengahnya.’ Oh? Ini langsung oke? ‘Iya’. Katanya gitu. Dia transfer. Setengahnya, umpamanya setengahnya dari 20 juta. (Dia transfer) bukan 10, tapi (transfer) 15,” jelas Rico yang juga seorang penyiar radio ini.
“Pas balik, manajemen bilang (ke penipu) ‘Kok 15 ini? Kelebihan’. (Lalu si penipu menjawab) ‘Iya ini, mohon maaf’. Bukti transfernya dikasih tahu. Jam 21.00. ‘Boleh gak, punten, yang 5 jutanya ditransfer balik?’ (kata si penipu),” beber Rico.
Penipu itu meminta agar Rico mentransfer kembali kelebihan uang 5 juta kepada si fulan (nama yang disebutkan oleh si penipu), yang katanya akan dipergunakan untuk biaya fotografi di acara tersebut. Asisten Rico pun segera mengembalikan uang Rp 5 juta.
Tidak lama berselang, penipu tersebut kembali menelepon asisten Rico dan mengatakan bahwa mereka berniat melunasi seluruh honor Rico sebesar 20 juta, seperti yang telah disepakati di awal.
“Gak lama kemudian, (penipu itu) telepon lagi. ‘Mbak, tadi kan 10 juta ya, yang 5 udah dibalikin. Gini deh, kita langsung lunasin aja. Yang 10-nya kita lunasin aja malam ini deh,” papar Rico menirukan ucapan si penipu.
Rico merasa heran, mengapa penipu tersebut ingin membayar seluruh honornya, padahal pekerjaan pun belum ditunaikan, dan bahkan belum ada invoice serta tanda tangan kontrak.
Penipu tersebut menjawab bahwa itu tidak masalah, mereka bersedia membayar sisa honor Rico sebesar Rp 10 juta.
Namun anehnya, uang yang ditransfer oleh penipu tersebut bukanlah Rp 10 juta, melainkan sebesar Rp 20 juta. Lagi-lagi kelebihan, dan minta dikembalikan.
“(Rico bertanya) Oh, gakpapa Pak? Kita belum ada invoce, belum ada kontrak. (Lalu sang penipu menjawab) ‘Oh gakpapa’. Ini (penipuan) yang kedua nih, dia transfernya nggak 10 juta. Dia transfernya 20 juta!”
“Admin saya telepon (penipu) itu lagi. ‘Mohon maaf Pak, kelebihan lagi. Bapak transfernya 20 juta. Jadi (honornya Rico) 30 juta dong?’ (Lalu dijawab oleh si penipu), ‘Iya mohon maaf, bisa gak ditransfer balik lagi ke si fulan, itu buat bayar patwal’,” tutur Rico melanjutkan ceritanya.
Rico semakin heran, mengapa acara Kementerian yang dilakukan di dalam ruangan, harus memakai fasilitas pengawalan. Namun ia tak terlalu curiga, sebab bukti transferan benar-benar dikirimkan padanya.
“Kok acara Kementerian di dalam, indoor, kok ada pake pengawal, patwal? Mulai agak singit tuh kita.Tapi karena bukti transfer ada, dikirimkan oleh mereka, oh ya udah masuk (transferannya).”
Karena merasa bukan haknya, ahirnya Rico pun mengembalikan Rp 10 juta kelebihan transfer, sesuai permintaan si penipu, sampai-sampai ia bercanda pada si penipu yang dua kali ceroboh mengirimkan uang berlebih.
“Ya udah kita balikin. Bukan hak kita. Bapak kalau mau “nitip”, bilang. Tadi (kelebihan) 5, sekarang (kelebihan) 10. Udah 15 juta tuh.”
Namun rupanya, ulah penipu tersebut tak berhenti sampai di sini. Mereka kembali menghubungi pihak Rico, dengan menanyakan pada Rico apakah dirinya bersedia mengisi acara hingga malam hari.
“Pak, ini acaranya kan buat pagi. Kalau misal acaranya nyambung sampai malemnya, gimana? Gala dinner.”
Mengetahui dirinya akan diminta menjadi host acara sampai malam hari, Rico tentu menanggapinya dengan senang hati.
Akhirnya disepakati nominal honor MC untuk acara malam hari adalah sama dengan nominal honor untuk acara di pagi hari, yaitu Rp 20 juta. Dan langsung dibayarkan penuh oleh pihak penipu kepada Rico.
Namun lagi-lagi Rico diberitahu bahwa penipu tersebut, bahwa mereka telah mentransfer nominal Rp 25 juta, yang artinya kelebihan Rp 5 juta.
“Misalnya harusnya transfer 20 juta ya. Ini dia transfer kelebihan lagi. 25 juta! (si penipu mengatakan), Pak mohon maaf ya, saya transfer kelebihan lagi, 5 juta. Maaf ya. Boleh balikin lagi nggak?”
Bukti transfernya ada. Kita nggak cek mutasi ke bank. Itu kelemahan kita kali ya. Kita balikin 5 juta lagi. Katanya buat biaya kostum.”
Rico kembali heran mendengar perkataan si penipu, yang mengatakan bahwa ada biaya kostum, sementara biasanya selama ini dia hanya mengenakan setelan jas apabila didaulat menjadi MC.
“Udah nih, itu jam 11 malem, jam 12 malem, kita baru mudheng (paham) tuh. Ntar dulu, ntar dulu... Setelah udah terlempar (mentrasfer) uang sekian banyak tuh ya... Setop. Gua curiga nih.”
“Jam 10, 11, 12, setengah 1 malem, mereka neleponin terus. Mau ngajak (tawaran job) dimana. Ada acara dimana. Sampai akhirnya kita tutup (tidak meladeni telepon). Dan kita tidur.”
Keesokan paginya, Rico memutuskan untuk mengecek langsung ke bank. Dan benarlah kecurigaannya, bahwa transaksi semalam adalah transferan fiktif.
“Pas pagi-pagi buka, jam 1, jam setengah 3, nelepon terus tuh. Event apa’an nih. EO nelepon sampai jam 1, jam 3, kuntilanak nih."
“Pagi-pagi terus kita cek segala macem. Saya langsung ke bank. Pagi-pagi saya ada siaran radio, saya mau ke bank. Bener nggak nih transferan kemarin, dengan bukti-bukti yang masuk. Saya print buku ke kasir. Gak ada (transferan masuk apapun). Zonk! Nol!”
“Ya kejahatan perbankan, diedit kali ya (bukti transferan yang dikirim kepada Rico), entah bagaimana, untuk meyakinkan si calon yang ditipu. Aduh, gua lemes pas nge-print. Nggak ada yang masuk lho.”
Rico pun segera memberitahu pihak manajemen dan juga istrinya mengenai transferan fiktif tersebut. Istri Rico sangat terpukul mengetahui suaminya menjadi korban penipuan.
Sebelum terjadinya insiden penipuan ini, Rico bercerita bahwa dirinya baru saja berdonasi besar-besaran di suatu acara amal, hingga Rico pun mengaitkan perkataan orang-orang yang berpendapat bahwa apabila seseorang mengalami musibah penipuan/kerampokan/kehilangan, itu tandanya orang tersebut kurang beramal.
Namun sebenarnya, tidaklah selalu demikian. Bukan berarti apabila seseorang terkena musibah kehilangan harta benda, maka orang tersebut pastilah kurang amal. Contohnya, kisah seorang pendakwah yang juga mengalami penipuan, padahal dirinya selalu berusaha hidup 'lurus' dan beramal baik di dunia.
“Istilahnya kalau kita mau berbuat baik, ya tetep berbuat baik. Tapi tetep waspada, iya. Kan kemarin di Mekkah, saya umroh, (ada orang yang) sandalnya ilang juga ada.”
"Ya artinya, mungkin bisa berbanding lurus, bisa juga enggak. Kita berbuat kebaikan nggak usah disebutin, nanti pahala ilang,” ujar Rico bijak.
“Ya udah, mungkin Allah mau mengangkat derajat kita. Mungkin nanti mau dapat yang lebih gedhe. Aamiin.”
Rico mengaku, total kerugian yang dialaminya adalah sekitar Rp 30 juta, dan apabila diteruskan, bisa saja mencapai ratusan juta rupiah.
“Sekitar 30 juta’an-lah gitu ya. Itu kalau kita nggak setop, bisa nyampe 100, 120 juta. Jadi, sangat meyakinkan dari bukti transfernya dia.”
Rico mengatakan bahwa cara komunikasi penipu tersebut sangatlah baik, seperti orang yang sudah terlatih public speaking-nya.
“Kita juga suka ngajak public speaking ya. Itu caranya ngomong (si penipu) itu memang beda. Jadi kita dibikin nggak bisa napas (berpikir logis).”
“Lemes, sampai istri saya tidurnya susah. Nangis istri saya. ‘Ya Allah mas, kita dosa salah apa ya?' Kita ngobrol berdua. Kita lagi buat ini, kita lagi bantu ini. Udah..udah..jangan diomongin nanti pahala kita ilang. Anggap aja lagi ujian. Mungkin ada sisi lain yang Allah lihat, kita masih belum baik. Atau Allah milih kita, karena kita mau diangkat derajatnya,” kata Rico menenangkan sang istri.
Hingga saat ini, Rico belum melapor ke pihak yang berwajib dikarenakan mempertimbangkan banyak hal.
“Lapor hilang ayam, jadi hilang kambing. Lebih gedhe lagi. Artinya, saya nggak tahu kemana. Apakah ke Hansip, ataukah ke Pak RT, saya nggak ngerti jalurnya. Tapi nanti repot nggak ya, ribet nggak ya. Udah kebayang tuh. Mindset saya mungkin salah. Tapi kalau emang ada yang bisa (membuat uang yang hilang menjadi kembali), wah alhamdulillaah banget,” pungkasnya.
Unggahan video ini mendapat respons warganet yang menasihatkan agar masyarakat lebih berhati-hati dengan modus para penipu, seperti komentar pengguna akun @bundanyaayaicah9043.
"Itu bukan kejahatan per bank-kan tapi pinter2 nya si penipu meng-edit bukti transfer," tulis akun @bundanyaayaicah9043.
"Hhhhmmm harusnya cek saldo dl jangan percaya bukti transfer yg gampang di edit….hari gini jangan mudah percaya tanpa cek saldo di rekening bank…apakah bener2 masuk atau belum…sesimpel itu," kata akun @bundanyaayaicah9043 lagi.
Editor : Baskoro Septiadi