RADARSEMARANG.ID - Gelombang petisi kritik terhadap pemerintahan Jokowi kembali muncul setelah UGM dan UII terlebih dulu menyatakan sikap mereka.
Dari sejumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia, kini UNHAS dan Universitas Indonesia (UI) diketahui melayangkan petisi kepada Pemerintahan Jokowi.
Melalui video yang tersebar di media sosia, mereka menyampaikan sikapnya terhadap demokrasi, hukum, dan moralitas di bawah kepemimpinan Jokowi.
Petisi tersebut disampaikan oleh sivitas akademika Universitas Hasanuddin (UNHAS) pada Jum’at (2/2).
Dalam video yang diunggah netizen di media sosial X, UNHAS menyampaikan sikap pada pemerintahan Jokowi melalui Forum Guru Besar dan Dosen.
Mereka mengeluarkan empat poin penting terkait Pilpres 2024 dan menekankan pentingnya menjaga dan mempertahankan Pancasila dan UUD 1945.
Selain itu, mereka mengingatkan Jokowi dan semua pejabat negara untuk tetap berada pada koridor demokrasi, meminta KPU, Bawaslu, dan DKPP.
Petisi ini dibacakan oleh anggota Dewan Profesor UNHAS Prof Triyatni Martosenjoyo didampingi sejumlah guru besar lainnya di depan Rektorat UNHAS.
Saat membacakan petisi tersebut, mereka juga mendapat dukungan dari Rektor UNHAS Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu.
Pihak UNHAS berharap pemerintahan Jokowi dapat bekerja secara profesional, dan menyerukan kepada masyarakat untuk mewujudkan iklim demokrasi yang sehat dan bermartabat.
Sementara itu, petisi dari UI disampaikan oleh puluhan guru besar dan para alumni kampus, pada Jum’at (2/2) saat menggelar aksi di halaman Rektorat Kampus UI, Depok, Jawa Barat.
Diketahui, Ketua Dewan Guru Besar UI Harkristuti Harkrisnowo yang membacakan petisi tersebut juga mendapat dukungan dari Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro.
Mereka dikabarkan menyuarakan empat poin penting saat menyampaikan sikap terhadap pemerintahan Jokowi.
Aksi tersebut dikatakannya merupakan bentuk tanggung jawab akademik dari sivitas UI terhadap kondisi bangsa Indonesia.
Video petisi dari UNHAS dan UI ini tersebar di media sosial, menyusul video pernyataan sikap dari UGM pada Rabu (31/1) dan UII pada Kamis (1/2).
Editor : Baskoro Septiadi