Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kronologi Warga Desa Gondang Diduga Jadi Korban Malapraktik RSUD Batang, Divonis HIV Ternyata Ada Selang Tertinggal di Perut

Riyan Fadli • Minggu, 28 September 2025 | 21:19 WIB

 

Mistono bersama anaknya menunjukkan hasil laboratorium terkait penyakitnya. RIYAN FADLI JAWA POS RADAR SEMARANG
Mistono bersama anaknya menunjukkan hasil laboratorium terkait penyakitnya. RIYAN FADLI JAWA POS RADAR SEMARANG

 

RADARSEMARANG.ID, Batang – Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah pepatah yang pantas disematkan pada nasib Mistono, 59, warga Desa Gondang, Kecamatan Subah.

Usai menjalani operasi kencing batu di RSUD Batang pada akhir 2024, tubuhnya bukannya sembuh malah makin bermasalah. Tiap kali kencing, ia mengeluarkan darah hingga nanah.

Mistono kerap mengerang kesakitan. Kondisi itu dialaminya selama kurang lebih delapan bulan. Jawa Pos Metro Pekalongan berkesempatan bertemu Mistono di kediamannya, Jumat sore, 26 September 2025.

Raut mukanya kini lebih sumringah, tidak merasakan sakit lagi. Ia bersyukur bisa sembuh dari rasa sakit yang dialaminya selama ini. 

Dulu, ia sempat putus asa dan menunggu ajal datang. Pengobatan rutin telah dilakukan, namun tidak ada perubahan. "Pikirane penyakit kok ora mari-mari, kapan nyong mati ne," cetusnya. 

Pada akhir tahun 2024, Mistono melakukan operasi kencing batu. Operasi berjalan lancar hingga tim medis berhasil mengangkat batu yang ada di saluran kencingnya.

Namun, bukannya membaik pasca operasi, justru kondisi pria yang berprofesi sebagai petani ini semakin memburuk. Setiap buang air kecil, urine yang dikeluarkan bercampur dengan darah dan nanah. 

Keluarga pun sudah mencoba berkonsultasi dengan pihak rumah sakit, namun jawaban yang didapat tidak memuaskan.

Kondisi ini dianggap wajar pasca operasi oleh tim medis RSUD Batang. Mistono kemudian malah divonis mengidap HIV.

“Awalnya operasi berjalan normal, saya dirawat delapan hari. Setelah pulang kurang lebih seminggu, sakit lagi. Lalu masuk rumah sakit lagi, disuruh kontrol. Saat kontrol itu malah dikasih tahu sama perawat kalau saya kena HIV,” ujarnya.

Mendengar kabar tersebut, Mistono mengaku sangat terpukul. Terpaksa mengonsumsi obat rutin selama hampir tujuh bulan.

Ia harus menelan kenyataan pahit ditambah stigma sosial yang mengiringi vonis HIV.

Ia menjaga jarak dan hanya beberapa orang saja yang mengetahui vonis HIV itu.

“Saya bingung, pusing, kencing keluar darah terus. Saya sempat berpikir, apa memang begini HIV itu,” kata dia dengan wajah murung.

Tak hanya sakit fisik, Mistono juga menanggung beban mental. Hubungan rumah tangganya terguncang lantaran sang istri sempat curiga dirinya berselingkuh, hingga suka main perempuan.

“Iya, namanya istri pasti curiga. Saya sampai dikucilkan, dicurigai bermain dengan wanita lain,” ucapnya lirih.

Namun, hubungan keluarga itu berangsur membaik setelah ia mencoba tempat lain untuk melakukan tes laboratorium.

Belakangan, hasil laboratorium dari Cito Pekalongan keluar. Berdasarkan hasil tes dengan nomor 2509220061, Mistono dinyatakan nonreaktif HIV.

“Jadi hasil lab itu saya dinyatakan negatif atau nonreaktif HIV. Itu membantah vonis sebelumnya,” tuturnya.

Selama ini, ia memaksakan diri tetap bekerja sembari menahan rasa sakit. Memanjat pohon memetik buah nangka hingga memanen buat pisang.

Karena kesulitan beraktivitas normal itu, membuatnya meminta rujukan ke RS Siti Khodijah, Kota Pekalongan.

Dari pemeriksaan lanjutan, termasuk USG dan rontgen, dokter akhirnya menemukan adanya benda asing dalam tubuhnya.

“Setelah USG baru ketahuan ada selang tertinggal. Dokter urologi bilang harus segera diambil. Setelah operasi pengambilan selang, saya langsung sehat normal kembali,” katanya lega.

Selang sekitar sepanjang 30 sentimeter itu berhasil dikeluarkan melalui operasi kedua. Pascaoperasi, kondisi Mistono berangsur pulih dan kini ia sudah kembali beraktivitas seperti biasa.

Kisah yang dialami Mistono membuat keluarganya marah dan kecewa terhadap pelayanan RSUD Batang.

Anak pertamanya, Yusro, mengatakan keluarganya merasa ayahnya telah menjadi korban malpraktek kelalaian medis.

“Sangat kecewa, bapak saya selama tujuh bulan menderita, bukan soal sakitnya saja, tapi dampak sosial yang dialami bapak saya,” ungkap Yusro.

Menurutnya, keluarga Mistono berencana meminta pertanggungjawaban dari pihak RSUD Batang. “Kita minta pertanggungjawaban mas,” tegasnya.

Kini, setelah melewati penderitaan panjang, Mistono berharap kasus yang dialaminya bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak. Ia mengaku tidak ingin ada pasien lain yang mengalami nasib serupa.

“Saya cuma ingin keadilan. Kalau memang salah, ya harus bertanggung jawab. Jangan sampai ada orang lain yang ngalami kayak saya,” katanya.

Mistono kini kembali menjalani aktivitas normal bersama keluarganya. Meski demikian, luka batin akibat vonis HIV yang ternyata keliru masih membekas dalam kehidupannya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD Kalisari Batang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan malpraktik ini. (yan)

Editor : Baskoro Septiadi
#malapraktik #ginjal #hiv #RSUD Batang