Untungno adalah petani ubi warga Dusun Prumbanan RT 01 RW 04, Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Bila kebanyakan warga setempat menanam kentang atau sayuran, Untung-sapaan akrabnya- memilih ubi.
Dia menanam ubi dan menjual sendiri tidak melalui tengkulak. Justru tengkulak yang datang ke rumahnya. Sehingga dia bebas menentukan harga. Ide ini muncul karena kepepet.
“Setiap awal tahun, saya harus meneropong program pemerintah, dalam hal ini adalah program Kementerian Pertanian. Saya memilih menanam tanaman yang berbeda dari program pemerintah. Harus berani keluar dari itu,” terangnya ketika ditemui di rumahnya.
Kenapa dia menanam ubi? Karena menyimpang dari program pemerintah. Menurutnya, kebanyakan program pertanian yang dibuat pemerintah ketika panen raya, harganya menjadi murah. Hukum pertanian, yang langka itu yang mahal. Mana yang over atau berlebih itu yang murah.
Kini, ubi produknya sudah tembus ekspor. Untuk menanam ubi, Untung mencari lahan yang harus terkena matahari penuh. Lantas dia menyewa tanah di berbagai tempat, luasnya lebih dari 10 hektare untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Lokasinya, di Mendolo, Bomerto, Pesindon, Candirejo, Selomerto, dan Kramatan. Saat ini, ia membuat demplot atau pertanian percontohan di Kalianget Central.
“Ubi semula bundar-bundar, karena permintaan ekspor harus panjang, lonjong, atau oval, sehingga harus mengubah. Saya mengubahnya dari bibit dan tata laksana pengolahan lahan. Misalnya, tanahnya harus gembur agar akarnya bisa mudah masuk ke dalam tanah, sehingga bisa lonjong. Ini otodidak. Coba-coba,” jelasnya.
Untung merasa, ada krisis regenerasi petani. Banyak anak petani yang ogah menjadi petani. Anak-anak melihat orang tuanya hidup susah. Sehingga, mereka memilih bekerja ke luar kota. Hal ini membuat usaha pertanian menjadi terbengkalai. Rata-rata petani sekarang adalah orang yang sudah tua. Anak muda usia 20 hingga 30 tahun jarang bekerja sebagai petani. Berbeda dengan Untung. Dia justru menyekolahkan anaknya ke Jepang, untuk belajar pertanian.
Pada April lalu, Untung meraih penghargaan sebagai petani teladan. Predikat itu disematkan oleh PT Sak. Pabrik yang memproduksi alat-alat pertanian. Awalnya ia diminta PT Sak untuk mencoba empat cultivator yang baru diproduksi.
Cultivator adalah alat mirip traktor yang berfungsi untuk mencangkul. Untung diminta untuk menguji dan memberikan catatan apa saja kekurangannya. Selama dua hari, PT Sak melakukan uji cultivator di tempatnya. Dari catatan Untung, pabrik tersebut kini sudah memproduksi besar-besaran.
“Jadi, PT Sak membuat mesin tersebut berdasar apa yang dimau petani. Bukan mereka yang menentukan. Karena belum tentu pas digunakan petani,” tuturnya.
Seiring berjalannya waktu, pihaknya intens berkomunikasi dengan PT Sak. Bahkan, dari Honda juga ikut memintanya menguji cultivator. Akhirnya banyak orang bertanya masalah pertanian padanya.
Untung juga mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) dan memberikan edukasi kepada sesama petani. Dia berbagi ilmu tanpa ada target pembiayaan, atau mengabdi kepada sesama petani. “Saya kalau diminta ke mana-mana ya tidak pernah minta bayaran sekian, tidak ada,”ujarnya.
Kunci dari membuat P4S harus memiliki usaha. Sebab, dia harus kemana-mana memberikan pelatihan tanpa ada yang memberi anggaran, atau menggunakan biaya sendiri. Dia melakukan ini karena kecintaannya terhadap dunia pertanian. “Diri sendiri harus kuat fondasi ekonominya, baru bisa berbagi ke orang lain,” tandasnya.
Pada awal 2022, Biro Humas Kementerian Pertanian menyeleksi petani teladan dan inspiratif. Singkat cerita, PT Sak mengusulkan Untung ke Kementerian Pertanian. Humas Kementerian Pertanian lantas melakukan kunjungan ke rumahnya. Mereka meminta izin kehidupan Untung sebagai petani, dibuat film.
“Yang melakukan syuting adalah TV Tani Indonesia. Tujuan membuat film tersebut untuk memotivasi anak-anak muda agar senang dan memiliki niat menjadi petani,” akunya.
Pada 14 Agustus 2022, Untung menerima penghargaan dari Kementerian Pertanian karena dedikasinya memberikan pelatihan-pelatihan kepada petani gratis. (din/lis) Editor : Agus AP