RADARSEMARANG.ID, Magelang – Wakil Wali Kota Magelang dr Sri Harso getol mewujudkan pelayanan kesehatan di Kota Magelang yang merata dan inklusif. Melalui program unggulan Pemkot Magelang di bidang kesehatan, pihaknya ingin kemudahan dan kecepatan pelayanan juga bisa dirasakan oleh setiap masyarakat. Hal ini senafas dengan semangat transformasi mutu layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
"Alhamdulillah, pasien-pasien yang berobat ke puskesmas maupun di rumah sakit, hampir semua terjamin BPJS Kesehatan. Mereka (pasien) merasakan kemudahan itu," aku wakil wali kota yang bergelar dokter spesialis saraf tersebut, Jumat (20/6/2025).
Dokter Sri Harso mengakui, Kota Magelang yang telah mencapai Universal Health Coverage (UHC) nyaris 100 persen. Sementara penduduk yang belum ber-JKN merupakan bayi yang baru lahir, dan akan segera didaftarkan setelah memiliki nomor induk kependudukan (NIK).
"UHC Kota Magelang sudah hampir 100 persen, jadi insya Allah semua lancar, klaimnya juga lancar, tidak ada kendala apa-apa," imbuhnya.
Bahkan demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, RSUD Tidar Kota Magelang akan menambah jumlah tempat tidur (TT). Penambahan ini seiring dengan semakin banyaknya pasien yang berobat ke rumah sakit milik Pemkot Magelang tersebut.
Menurut Dokter Sri Harso, RSUD Tidar Kota Magelang menjadi rumah sakit primadona di masyarakat Magelang dan sekitarnya, serta didominasi oleh pasien BPJS Kesehatan. Karena itu, rumah sakit yang berada di Jalan Tidar Nomor 30, Kemirirejo, Kota Magelang, itu menambah 130 tempat tidur.
"Saat ini, jumlah tempat tidur di RSUD Tidar masih kurang, sehingga sekarang sedang pembangunan gedung dan renovasi tiga bangsal," ungkapnya.
Pembangunan ini ditargetkan selesai pada akhir tahun. Dan bisa difungsikan pada tahun 2026 mendatang.
"Karena sekarang sedang tahap pembangunan gedung, mungkin dalam pelayanan rawat inap agak crowded. Tapi akhir tahun nanti, pembangunan itu sudah selesai," imbuhnya.
Lanjut Dokter Sri, pembangunan gedung baru 6 lantai itu dilandasi dari keinginan Pemkot Magelang dan manajemen RSUD Tidar Kota Magelang untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya bagi pasien BPJS Kesehatan.
Dengan penambahan jumlah tempat tidur, ia berharap, para pasien yang membutuhkan rawat inap bisa terlayani dengan baik. Di samping terlayani, pasien juga semakin nyaman saat menjalani rawat inap, karena ruangannya representatif.
"Yang pasti, pembangunan ini juga untuk mengakomodasi pasien-pasien dari BPJS Kesehatan," ucapnya.
Sejalan dengan transformasi mutu layanan BPJS Kesehatan yang mudah, cepat, dan setara, Pemkot Magelang juga meluncurkan program pengantaran obat gratis bagi pasien lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas.
Pelayanan ini diberikan tidak hanya untuk pasien BPJS Kesehatan, tapi juga untuk pasien umum.
Teknisnya, pasien yang berobat ke poli di RSUD Tidar Kota Magelang akan mendapatkan resep dari dokter. Selanjutnya, resep tersebut akan diproses di unit farmasi untuk disiapkan obat.
Setelah selesai, petugas RSUD Tidar Kota Magelang akan mengantar obat tersebut ke rumah pasien.
"Kita targetkan, pukul 08.00 atau 08.30, para dokter sudah ada di poliklinik, karena pendaftaran dibuka pukul 07.00. Sehingga pelayanan lebih cepat, para pasien tidak menunggu lama. Untuk lansia dan disabilitas, obatnya juga langsung diantar ke rumah," terangnya.
Dengan begitu, pasien lansia dan disabilitas tidak memerlukan tambahan waktu untuk mengantre di unit farmasi. Sementara untuk pasien kategori lainnya, dapat menunggu di unit farmasi sekitar 30 menit. Dikatakannya, layanan pengantaran obat ini dapat memecah antrean di farmasi.
Selain layanan program pengantaran obat gratis, Pemkot Magelang juga melaksanakan program fasilitas kesehatan (faskes) buka sampai malam. Dokter Sri menyebut, puskesmas di tiap kecamatan akan menambah jadwal layanan sore hari sampai pukul 20.00.
“Sekarang, semua masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan pagi dan sore, bisa disesuaikan dengan kebutuhan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Magelang Maya Susanti mengapresiasi komitmen Pemkot Magelang dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Program layanan yang diluncurkan bahkan bisa dinikmati oleh peserta BPJS Kesehatan.
“Artinya apa? Bahwa Kota Magelang ini adalah salah satu contoh kota yang tidak ada diskriminasi dalam pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Kota Magelang juga menunjukkan keseriusan dalam bidang kesehatan. Maya mengungkapkan, Kota Gethuk ini sudah meraih UHC sejak tahun 2018. Sampai saat ini, angka UHC di Kota Magelang tidak pernah turun, bahkan justru meningkat.
“Pemkot Magelang rutin menyisir warga kurang mampu dalam program Penerima Bantuan Iuran (PBI). Jika ada yang tercoret dari PBI JK, Dinkes Kota Magelang akan mengalihkan menjadi penerima PBI BP Pemda, sehingga UHC Kota Magelang selalu bertahan,” pungkasnya. (put/web/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo