RADARSEMARANG.ID, Magelang—Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Tidar (Untidar) bekerja sama dengan Desa Wringinputih dan BUMDes Guyub Rukun selaku pengelola TPS-3R Merti Bumi telah berhasil meningkatkan produksi budidaya maggot dari sampah organik, khususnya di wilayah kerja TPS-3R Merti Bumi Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Kegiatan ini diketuai oleh Serafica Btari Christiyani Kusumaningrum, M.Sc bersama anggota dosen lainnya, yaitu Shefa Dwijayanti Ramadani, M.Pd. dari Pendidikan Biologi FKIP Untidar, dan berkolaborasi dengan Aulia Vidya Almadana, M.M dari Departemen Manajeman Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB Undip).
Kegiatan pengabdian ini dilakukan bersama dengan 20 mahasiswa dari berbagai program studi di lingkup Universitas Tidar melalui skema Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa untuk memecahkan permasalahan isu lingkungan khususnya di Desa Wringinputih.
“Permasalahan budidaya maggot tampaknya tidak segera selesai. Profit yang kami dapatkan nampaknya belum dapat menutupi biaya operasional untuk budidaya maggot. Maka kami berharap keterlibatan akademisi dari Universitas Tidar dapat memberikan sumbangsih saran dan masukan kami untuk menyelesaikan permasalahan ini,” kata Direktur Bumdes Guyub Rukun selaku pengelola TPS-3R, Rizal Windriatmoko.
Berdasar permasalahan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Untidar melakukan obervasi lapangan tentang pengelolaan sampah di Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Hasilnya, ditemukan pengelolaan sampah organik yang masuk ke TPS-3R Merti Bumi masih belum optimal.
Padahal biokonversi sampah organik dari rumah tangga menjadi larva Black Fly Soldier (BSF) atau yang sering dikenal sebagai maggot sangat berpotensi untuk meningkatkan produktivitas ekonomis dari TPS-3R.
Kegiatan optimalisasi budidaya maggot dilakukan selama kurang lebih dua minggu yang dimulai pada Agustus 2024 lalu. Tim pengabdian mempelajari kekurangan dan potensi yang ada di TPS-3R.
Berdasarkan hasil survei ditemukan bahwa penting untuk dilakukan implementasi teknologi berupa alat pencacah sampah dan oven pengering maggot untuk meningkatkan waktu simpan.
“Adanya teknologi alat pencacah sampah berfungsi untuk mengubah sampah organik menjadi lebih halus, sehingga dapat digunakan sebagai media pakan yang baik bagi maggot. Selain itu, maggot kering diharapkan dapat meningkatkan masa simpan dan nilai jual maggot sebagai pakan ternak dan sumber protein, sehingga implementasi oven pengering jelas sangat dibutuhkan saat ini,’’ jelas Ketua Tim Pengabdian Serafica Btari Christiyani Kusumaningrum, M.Sc.
Menurut salah satu mahasiswa anggota pengabdian, pihaknya telah berupaya untuk melakukan uji coba pengeringan maggot untuk meningkatkan nilai jual dari mulai penjemuran langsung di bawah sinar matahari hingga penggorengan dengan pasir.
“Yang kami temukan, paling efektif adalah dengan oven pengering yang berputar secara teratur,” ujar salah satu mahasiswa anggota pengabdian tersebut.
Serafica Btrari Christiyani Kusumaningrum, M.Sc berharap, setelah pemberian sosialisasi dan pelatihan penggunaan teknologi pencacah sampah dan pengeringan oven diharapkan kapasitas produksi biokonversi larva BSF dari sampah organik semakin optimal.
“Sehingga dapat memberikan manfaat ekonomis yang lebih tinggi lagi bagi pengelola TPS-3R Merti Bumi dan masyarakat pada umumnya,” harap dosen Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untidar ini. (aro/web)
Editor : H. Arif Riyanto