RADARSEMARANG.ID - Cerita horor kali datang dari Sudarmo (54), pria asal Wonogiri yang berprofesi sebagai pedagang bakso keliling di daerah pinggiran kota Ungaran, Kabupaten Semarang.
Pria yang akrab di panggil Darmo ini mengaku sudah hampir separo hidupnya berjualan bakso keliling, setelah sempat merantau d Jakarta selama kurang lebih limab tahun, bekerja sebagai tukang kebun di sebuah perusahaan swasta di daerah Tanjung Priok.
"Lima tahun sempatn kerja di Jakarta mas, tapi lama-lama bosen, apalagi setelah ta pikir-pikir penghasilannya gak cucuk dengan kerjaannya"ungkap Darmo saat ditemui RadarSemarang.id saat keliling menjajakan baksonya.
Awal berjualan bakso keliling dia sempat berpindah-pindah daerah, mulai jualan di kota Kendal, Mranggen, kota Semarang dan terakhir berjualan di pinggiran kota Ungaran yang berbatasan dengan daerah Karangjati.
Baca Juga: Serem! Pulang Lembur Tengah Malam, Karyawan Percetakan Ini Dihadang Hantu Perempuan di Simpang Jalan
"Di daerah sini saya sudah delapan tahunan mas jualan, lumayan rame pembelinya, saya biasa keluar sore jam 5 sampai sehabisnya, kadang paling cepat jam sepuluh malam, kadang bisa sampai tengah malam baru habis"ungkap pria yang memiliki tiga anak dikampung halamannya ini.
Bertahun-tahun berjualan bakso keliling menyusuri perkampungan, jalanan yang sunyi dan terkadang melewati tempat-tempat yang kata orang angker, membuat Darmo beberapa kali mengalami peristiwa horor.
Namun, dari beberapa peristiwa horor yang dialaminya, ada satu kejadian yang sempat membuat dirinya ketakutan setengah mati.
Malam itu, angin dari arah perkebunan pisang berembus dingin menusuk kulit. Jalanan pinggiran Ungaran tampak sepi. Hanya suara jangkrik dan derit roda gerobak bakso milik Pak Darmo yang menemani malam.
Pak Darmo sudah hampir sepuluh tahun berjualan bakso keliling di daerah itu. Ia hafal setiap tikungan jalan, setiap rumah pelanggan, bahkan pohon-pohon besar yang berdiri di tepi jalan desa.
Namun ada satu tempat yang selalu ia hindari. Sebuah pohon beringin tua di dekat jalan tanjakan tak jauh dari kebun yang dipenuhi pohon pisang. Warga sekitar sering bilang, tempat itu angker.
Ada juga cerita tentang makam lama yang dipindah saat pelebaran jalan. Tapi malam itu Darmo terpaksa melewati jalan tersebut karena jalan utama ditutup akibat jalan tertutup tanah longsor.
Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Dagangannya tinggal sedikit. Lampu kecil di gerobaknya bergoyang diterpa angin. Saat mendekati pohon besar itu, langkahnya melambat.
Entah kenapa suasana malam itu mendadak sunyi. Tidak ada suara jangkrik, tak ada suara binatang malam yang biasanya bersahutan.
Hanya bunyi roda gerobaknya yang berdecit pelan.
Ckriiittt...
Ckriiittt...
Tiba-tiba…terdengar suara dari kegelapan malam.
“Pak… baksonya satu…”
Suara itu pelan. Serak. Dari arah bawah pohon.
Darmo menoleh ke arah su,mber suara.
Di bawah pohon beringin, berdiri sosok putih tinggi kurus. Wajahnya tertutup kain lusuh. Tubuhnya terbungkus kain kafan kotor.
Sosok itu adalah Pocong.
Jantung pria paruh baya itu langsung berdegup keras. Tangannya gemetar memegang mangkok dan sendok yang dia pegang.
Ia mencoba berpikir positif. “Mungkin orang iseng…” batinnya.
Namun sosok itu tidak bergerak seperti manusia biasa.
Tubuhnya meloncat pelan. Mendekati gerobak baksonya. Lampu kecil gerobaknya tiba-tiba meredup sendiri. Udara menjadi sangat dingin. Darmo mencium bau tanah yang basah, baunya sangat menyengat.
“Pak… baksonya… satu…”suara itu semakin dekat dengan tempat dirinya berdiri.
Darmo spontan menoleh cepat. Tapi kosong. Tidak ada siapa-siapa. Namun ketika ia melihat ke arah panci bakso. Sendok sayur di dalam kuah bergerak sendiri.
Pelan. Kuah itu seoalah mengaduk sendiri.
Kuah mendidih padahal kompor sudah mati sejak tadi. Tubuh Sudarmo lemas. Ia memberanikan diri melihat ke depan. Dan sosok pocong itu kini sudah berdiri tepat di depan gerobaknya. Wajahnya terlihat hitam.
Mata kosong berlubang. Mulutnya terbuka lebar penuh tanah. Lalu kepala pocong itu miring perlahan. “Dari dulu… aku belum dibayari…”pocong itu bersuara pelan tapi sangat jelas terdengar ditelinganya.
Mendengar suara itu, Darmo menjerit keras. Ia mendorong gerobaknya sekuat tenaga sambil berlari menuruni jalan. Bakso, mie, dan kuah tumpah berserakan di aspal.
Tapi pocong itu seolah mengejar dirinya. Di belakangnya terdengar suara loncatan cepat. Semakin dekat. Dar tidak berani menoleh. Dia terus mendorong gerobaknya ke arah perkampungan warga.
Sampai akhirnya ia tiba di pos ronda desa dalam keadaan pucat dan hampir pingsan. Warga yang berada di Pos Kamling langsung bergegas menolong, menuntunnya ke Pos. Beberapa warga lainnya mengecek kondisi gerobaknya yang amburadul.
Namun, mereka menemukan sesuatu yang aneh di gerobak baksonya. Di atas panci kuah terdapat uang kuno lusuh bercampur tanah merah. Tepat seribu rupiah. Sejak malam itu, Darmo tidak pernah lagi lewat jalan dekat pohon beringin tersebut.
"Itu kejadian yang paling menyeramkan sih mas, karena saya lihat sendiri dari jarak dekat hantu pocong itu. Untung saya masih kuat lari"tutur Darmo mengakhiri obrolan dengan RadarSemarang.ID. (sls)
Editor : Sulistiono