RADARSEMARANG.ID - Saat ini banyak film horor terbaru yang tayang dan akan segera tayang. Diantara film horor tersebut terdapat film yang mengangkat cerita horor rakyat atau cerita urban legend di suatu daerah.
Seperti contoh film horor terbaru garapan dari sutradara Anggi Umbara yakni Kromoleo yang tayang pada 22 Agustus 2024 kemarin.
Film tersebut mengangkat cerita urban legend dari daerah kawasan kaki Gunung Merapi.
Berikut cerita mistis urban legend Kromoleo yang memiliki pertanda datangnya malapetaka ataupun kematian.
Cerita tentang Kromoleo sendiri populer dan tersebar di daerah-daerah khususnya di kawasan kaki Gunung Merapi.
Menurut cerita, Kromoleo sendiri merupakan hantu yang berwujud rombongan pengantar jenazah.
Kromoleo akan menampakkan wujudnya berupa keranda berjalan lengkap dengan pengiringnya. Konon, sosok Kromoleo digambarkan orang yang memakai jubah hitam dengan tatapan yang kosong.
Cerita urban legend ini juga mulai populer pada tahun 1970 an. Dimana warga setempat merasa ada yang janggal sejak sore menjelang.
Bahkan hingga tengah malam, beberapa warga melihat rombongan yang membawa keranda yang digotong beramai-ramai.
Kejadian aneh tersebut akhirnya meluas dan dipercayai memiliki pertanda akan datangnya malapetaka atau kematian pada wilayah tersebut.
Kromoleo sendiri diambil dari seruan rombongan pembawa keranda tersebut yang lewat dengan menyerukan "moleo, moleo, kromoleo".
Sosok Kromoleo ini konon selalu diikuti dengan suara-suara tangisan dan ratapan yang menyeramkan.
Disisi lain keranda yang dibawa berisikan buntalan putih kumal yang mengeluarkan bau busuk yang menyengat.
Selain itu, di daerah lain juga terdapat hantu serupa yakni biasa disebut lampor. Hantu lampor ini selalu datang dan meneror warga pada malam hari.
Mitos yang beredar, orang yang dibawa atau terbawa oleh lampor ini akan hilang dan tidak akan bisa kembali lagi.
Sekalipun ada yang berhasil kembali, namun dalam kondisi gila atau linglung.
Dalam film horor terbaru Kromoleo digambarkan dengan sosok yang memiliki tubuh kurus kering bahkan tanpa ada daging yang selalu mengangkat keranda mayat.
Selain itu kehadiran sosok ini dianggap pembawa malapetakan bagi daerah yang didatangi. (nun/bas)
Editor : Baskoro Septiadi