Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Mengejawantah Mengajar yang Merdeka

Tasropi • Sabtu, 9 Maret 2024 | 17:49 WIB
Sri Walji Hasthanti, M.Pd.
Sri Walji Hasthanti, M.Pd.

 

RADARSEMARANG.ID, Kelas adalah dunia kecil yang menjadi wilayah otoritas guru.

Guru memiliki kemerdekaan memimpin wilayahnya dari mulai merencanakan proses dan tujuan pembelajaran hingga mengenal murid dalam hal gaya belajar.

Kemerdekaan di sini yang dimaksud adalah konteks proses pembelajaran yang bebas dari rasa takut adanya tekanan, baik terhadap dirinya maupun muridnya.

Baca Juga: Tambah Guru Besar, UIN Salatiga Siap Perluas Tri Dharma Perguruan Tinggi

Sehingga guru tidak terpaku pada aturan administratif yang kaku atau terlalu monoton sehingga membelenggu kreativitas dan inovasi yang dimiliki.

Kemerdekaan yang dimiliki guru dapat dimaknai sebagai kebebasan menentukan target yang akan dicapai murid dengan pembelajaran yang berpihak kepada mereka.

Artinya, kegiatan pembelajaran maupun bahan ajarnya memang dibutuhkan murid, kesesuaian dengan kondisi tempat murid tersebut berada, serta kebermanfaatan untuk masa depan mereka.

Ketika guru telah menentukan target atau tujuan pembelajaran, selanjutnya pemilihan metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat pemahaman murid, dan melakukan refleksi terhadap capaian dan proses pembelajaran.

Guru tidak perlu sungkan untuk berkolaborasi dengan teman sejawat atau belajar secara mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM).

Tentu saja konsep mengajar yang merdeka dimulai dari pola pikir guru sebelum mereka mengajar.

Pola pikir yang efektif akan terlihat ketika guru memimpin pembelajaran di kelas.

Variasi metode dengan model akan memunculkan diferensiasi pembelajaran yang bermakna dan berdampak pada daya serap murid.

Tugas guru bukan lagi sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator dengan membuat jembatan yang menghubungkan pengetahuan awal murid dengan pengetahuan baru.

Merdekanya guru dalam mengajar dimaknai sebagai hak untuk melakukan sesuatu dengan tanggung jawab.

Yaitu, bebas mengembangkan metode pembelajaran yang mudah dilakukan namun memberi kesan yang kuat bagi murid karena mereka menjadi paham apa yang didengar, dilihat, dilakukan, dan dipelajari di kelas.

Banyak cara yang dapat dilakukan guru untuk mengajar dengan merdeka.

Salah satu contohnya, yaitu mengambil esensi dari materi, dikembangkan sendiri, serta disesuaikan dengan lingkungan murid.

Hal ini akan lebih bermakna daripada mengikuti setiap lembar buku ajar yang kadang tidak mendalam materinya atau terlalu luas meskipun sebagai pengetahuan siswa. 

Cara lain adalah dengan mengaitkan atau memasukkan kearifan lokal di sekitar sekolah/wilayah tempat tinggal murid.

Misalnya, lokasi sekolah berada di daerah yang banyak sanggar kesenian reog, maka teks bacaan dibuat guru dengan cerita yang tokohnya adalah pemain atau anak yang menyukai kesenian reog.

Lalu, bagaimana dengan pelajaran matematika?

Guru dapat menggunakan contoh yang berhubungan dengan kesenian reog sebagai bahan pembelajaran numerasi, seperti jumlah pemain, tinggi topeng reog, panjang cambuknya, bentuk alat musiknya, dan lain-lain.

Kenyataannya, profesi guru belum sepenuhnya merdeka.

  1. Ketidakmerdekaan guru dalam mengajar tentu tidak selalu karena guru kurang mengembangkan diri.

Ada banyak faktor yang menjadikan guru tidak dapat mengajar dengan merdeka.

Antara lain tuntutan guru mengejar banyaknya materi yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu.

 Baca Juga: Pentingnya Alat Peraga dalam Pembelajaran Siswa Sekolah Dasar

Alasan lain adalah kurangnya waktu untuk menyiapkan bahan/alat peraga pembelajaran karena tugas tambahan atau jam kerja sampai sore, atau bisa juga karena guru mengajar materi yang sama dan berulang dari tahun ke tahun.

Selain itu, guru masih berorientasi pada nilai bukan pada ketercapaian kompetensi yang ditargetkan di awal ketika menyusun modul ajar.

Pencapaian kemerdekaan dalam mengajar adalah sebuah pilihan.

Jika dirasa masih terkendala, guru dapat mencoba berkolaborasi dengan teman sejawat untuk menemukan cara yang paling sederhana namun bermakna.

Membentuk komunitas belajar untuk berkolaborasi dan berbagi praktik baik adalah cara efektif untuk mengembangkan diri, mengudar kendala yang dialami, serta mendapat solusi. 

Kemerdekaan menuangkan ide/pikiran secara bebas menjadi sebuah karya yang dapat memberi manfaat bagi banyak orang.

Hasilnya, guru akan senang mengajar, murid akan memiliki pengalaman belajar yang bermakna serta berkembang sesuai kodrat mereka. (unw1/aro)

 

Oleh: Sri Walji Hasthanti, M.Pd

Guru SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga

Editor : Tasropi
#Sri Walji Hasthanti #pola pikir #Merdeka Mengajar