RADARSEMARANG.ID, Di lingkungan sekolah tidak hanya terjadi proses pembelajaran, tetapi ada interaksi antarsiswa-siswi yang setiap individu memiliki karakter dan sifat yang berbeda.
Hal-hal yang sering terjadi di lingkungan sekolah di luar pembelajaran yaitu perilaku bullying.
Perilaku bullying merupakan suatu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak secara berulang dan sifatnya menyerang.
Pelaku bullying merasa lebih dan hebat dari pihak korban. Baik penyerangan emosional, verbal, atau fisik.
Pihak yang terlibat dalam bullying adalah bullies/pelaku yaitu seseorang yang secara fisik, verbal dan mental mampu untuk melukai seseorang dan memiliki kecenderungan mendominasi dari korban bullying. Yang kedua ada victims/korban yaitu orang yang di-bully oleh bullies.
Korban lebih sering di-bully karena berbeda. Bisa berbeda agama, ras, warna kulit, fisik, ekonomi keluarga dan sebagainya dan itu lebih dijadikan sasaran utama untuk seseorang tersebut di-bully.
Lalu yang ketiga ada bystander/orang yang menyaksikan bullying. Yaitu orang yang melihat aksi aksi bullying secara langsung. Ada beberapa jenis orang yang menyaksikan bullying.
Baca Juga: Mengatasi Bullying di Sekolah dengan Teknik Sosiodrama
Yaitu orang yang menyaksikan bullying kemudian membantu korban agar tidak di-bully. Lalu orang yang menyaksikan bullying namun ikut membantu pelaku untuk mem-bully korban.
Ada pula orang yang menyaksikan bullying tidak membantu korban tapi ikut mem-bully serta jika sebagai saksi, tidak bisa menjawab dan pura-pura tidak tahu (Damayanti : 2010).
Faktor penyebab bullying menurut (Ariesto, 2009) ada lima. Pertama adalah hubungan keluarga.
Pengganggu biasanya berasal dari latar belakang keluarga yang bermasalah dan hubungan keluarga yang sering menyelesaikan masalah dengan kekerasan, agresi sehingga anak akan mengamati dan mencoba tindakan tersebut di luar.
Faktor kedua adalah sekolah. Pihak sekolah yang mengabaikan perilaku bullying akan mendapatkan anak-anak yang mempunyai kebiasaan bullying berbuat sesuka hatinya.
Bullying berkembang pesat dalam lingkungan sekolah karena sering memberikan masukan negatif pada siswanya.
Misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antarsesama anggota sekolah.
Faktor ketiga adalah kelompok teman sebaya dalam pergaulan sekolah atau lingkungan rumah terkadang menyebabkan terjadinya bullying.
Beberapa anak masuk atau melakukan tindakan bullying agar anak dapat diterima dalam kelompok tersebut meski kadang individu ataupun anak merasa kurang nyaman dalam melakukan tindakan tersebut.
Faktor yang berpengaruh selanjutnya adalah kondisi lingkungan sosial.
Salah satunya kemiskinan. Terjadi pemalakan untuk memenuhi kebutuhan pelaku bullying.
Faktor yang terakhir adalah tayangan televisi media internet memberikan anak-anak pola tiruan perilaku bullying dimana mereka mendapatkan perilaku bullying dari tontonan televisi yang tidak mendidik.
Menurut Suparlan (2006) guru memiliki satu kesatuan peran dan fungsi yang tak terpisahkan, antara kemampuan mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih.
Keempat kemampuan tersebut merupakan kemampuan integratif, yang satu sama lain tak dapat dipisahkan.
Secara komprehensif sebenarnya guru harus memiliki keempat kemampuan tersebut secara utuh.
Pada saat pelaksanan penanganan bullying guru harus memiliki pengetahuan tindakan bullying serta cara menanganinya.
Hal ini diharapkan guru dapat menangani dan mengidentifikasi perilaku bullying yang terjadi di kalangan siswa-siswi (Mandy & Sascha, 2012).
Menurut pendapat Muis & Mufidah (2018) guru harus segera menangani permasalahan bullying hingga tuntas. Baik itu penanganan terhadap pelaku, korban, reinforce, dll yang terlibat bullying.
Perilaku bullying di sekolah dapat dicegah dengan membentuk sikap, karakter dan kepribadian peserta didik berkoordinasi atau bekerja sama dengan wali murid.
Koordinasi yang dilakukan wali kelas atau guru kelas biasanya dilakukan dua kali dalam satu semester yaitu ketika penerimaan rapor pembelajaran. Satu kali pada awal semester, satu kali saat akhir semester.
Guru kelas menyampaikan perkembangan sifat, nilai dan tingkah laku siswa-siswinya kepada orang tua wali. Pembinaan secara kelompok atau klasikal dan individu maupun pribadi.
Pengarahan ini dilakukan di dalam kelas saat ada pembelajaran. Di situ disisipkan bahaya bullying baik untuk pelaku maupun korban. (nop/lis)
Oleh: Sri Ayem, S.Pd.SD
Guru SDN Ngluwar 2, Kec. Ngluwar, Kabupaten Magelang