RADARSEMARANG.ID, Proses belajar bersifat individual dan kontekstual. Artinya proses belajar tersebut terjadi dalam diri peserta didik sesuai dengan perkembangan dan lingkungannya (Warsita, 2008:62).
Untuk dapat berlangsung efektif dan efisien, proses belajar tersebut dirancang menjadi sebuah kegiatan pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran, penggunaan bahasa menjadi alat komunikasi yang diperlukan agar dapat diterima oleh siswa maksud pembelajaran tersebut.
Baca Juga: Upaya SD Srondol Wetan Nguri-uri Bahasa Jawa
Salah satunya adalah penggunaan Bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi.
Definisi Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat etnis Jawa yang kemudian menjadi salah satu bahasa daerah sebagai sarana komunikasi sehari- hari antara seseorang dengan orang lain.
Bahasa Jawa sendiri mempunyai keunikan atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh bahasa lain, yaitu adanya tingkat tutur atau dalam Bahasa Jawa disebut dengan unggah-ungguh.
Faktor siapa yang berbicara dan ditujukan kepada siapa pembicaran tersebut akan menentukan penggunaan ragam bahasa atau tingkat tutur yang tidak lain sebagai bentuk kesopanan dan penghormatan orang Jawa dalam berkomunikasi.
Secara garis besar tingkat tutur yang digunakan dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa ada dua, yakni ragam ngoko lan ragam krama.
Adapun ragam ngoko dibedakan lagi menjadi ngoko lugu dan ngoko alus. Sedangkan ragam krama dibedakan menjadi ragam krama lugu dan krama alus.
Yel-yel kadang tidak lepas disorakkan dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yel-yel adalah suatu pekikan atau sorakan para pelajar (mahasiswa, anggota perkumpulan, dan sebagainya) untuk memberikan dorongan semangat kepada regunya yang sedang bermain (bertanding, dan sebagainya).
Sorakan yel-yel yang disertai dengan tepuk tangan dan hentakan kaki secara bersama-sama akan membantu menentukan tempo lagu memberikan suasana kebersamaan dan kekompakan.
Dalam pembelajaran Bahasa Jawa adakalanya peserta didik merasakan kejenuhan atau kebosanan.
Hal ini dapat terjadi karena banyak faktor, antara lain tingkat konsentrasi siswa yang mulai menurun, durasi pembelajaran yang terlalu lama, materi yang disampaikan, dan sebagainya.
Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan upaya oleh guru selaku pendidik untuk mengondisikan peserta didik agar tetap semangat dalam belajarnya, merasa tertaik dengan materi yang diajarkan, dan dapat mengembalikan kembali konsentrasi siswa seperti di awal pembelajaran.
Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam pembelajaran Bahasa Jawa adalah siswa bersama-sama mengucapkan yel-yel Bahasa Jawa dengan istilah Jawanya “Keplok Jawi” (Tepuk Jawa).
Adapun ucapan dalam Keplok Jawi adalah sebagai berikut: Keplok Jawi, Kula # tiyang Jawi, Remen ngangge # Basa Jawi, Nguri-uri # Budaya Jawi, Tiyang sepuh # diurmati, Tiyang enem # ditresnani, Jawi Jawi gya.
Makna dari kalimat tersebut adalah Tepuk Jawa, Saya orang Jawa, Senang menggunakan bahasa Jawa, Melestarikan budaya Jawa, orang tua dihormati, anak muda disayangi, Jawa Jawa siyap.
Ragam bahasa yang digunakan dalam Keplok Jawi tersebut adalah ragam krama seperti kata kula, tiyang, remen, ngangge, sepuh, enem, lan jawi.
Dalam praktiknya di kelas setelah siswa mengucapkan yel-yel tersebut, kondisi pembelajaran di dalam kelas semakin kondusif.
Siswa merasa senang dan menjadi lebih semangat kembali untuk mengikuti pembelajaran.
Selain itu juga menanamkan nilai-nilai luhur kepada siswa yang secara tidak langsung mengajarkan melatih penggunaan bahasa krama sebagai bahasa komunikasi.
Juga menanamkan pemikiran kepada siswa untuk mengakui jati dirinya sebagai orang Jawa yang dalam kehidupan kesehariannya nanti akan berusaha menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi.
Selaku generasi muda mau melestarikan budaya Jawa agar tidak tergerus oleh budaya asing, menerapkan sikap menghormati kepada orang tua (ayah, ibu, guru, saudara yang lebih tua, dan sebagainya) serta menyayangi kepada orang yang lebih muda.
Apabila hal tersebut dapat diterapkan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, maka akan tercipta kehidupan yang harmonis, saling toleransi, dan saling menghargai.
Dengan demikian, penggunaan yel –yel Keplok Jawi sangat efektif sebagai penyemangat pembelajaran Bahasa Jawa di SMA Negeri 4 Magelang. (s4/aro)
Oleh: Sukaini, S.Pd.
Guru Bahasa Jawa SMA Negeri 4 Magelang
Editor : Tasropi