RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak, berilmu, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang bertanggung jawab serta tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman (UU nomor 20 tahun 2003).
Sebagai guru profesional, mempunyai tugas berat, tidak hanya mengajar, tapi yang paling utama adalah mendidik siswa menjadi manusia atau memanusiakan manusia.
Pembelajaran akuntansi di sekolah menengah atas (SMA) bertujuan membekali siswa dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman agar mereka menguasai dan mampu menerapkan konsep-konsep dasar, prinsip, prosedur akuntasi yang benar dan tepat bagi kehidupan mereka.
Oleh sebab itu, sangat penting pembelajaran akuntansi di tingkat SMA.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa akuntansi merupakan mata pelajaran yang cukup diperhitungkan. Namun kenyataannya kurang disukai oleh siswa.
Siswa berasumsi, akuntansi merupakan mata pelajaran yang membosankan.
Cara untuk mengubah asumsi ini tergantung pada metoda dan strategi yang diterapkan oleh guru.
Selama ini, pembelajaran akuntansi masih menggunakan metoda konvensional. Proses pembelajaran masih terfokus pada guru dengan metode monoton yaitu metode ceramah.
Pemakaian metode konvensional ini membuat guru kurang kreatif dan variatif dalam mengajar.
Hal ini menyebabkan membuat siswa kurang termotivasi untuk belajar. Diperparah dengan kurangnya serta sarana dan prasarana pendukung.
Hal ini menyebabkan siswa tidak tertarik apalagi aktif dalam belajar. Justru siswa sibuk dengan kegiatannya sendiri dan perilaku negatif lainnya.
Di antaranya, siswa membuat keributan, tidak mau bertanya dalam proses pembelajaran, menunggu penyelesaian pekerjaan dari guru, mencontek pekerjaan teman, dan lain-lain. Perilaku seperti ini berdampak pada hasil belajar siswa.
Proses pembelajaran yang berhasil, tentu memerlukan teknik, metode, dan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik tujuan, siswa, materi, dan sumber daya manusia.
Karena itu diperlukan strategi tepat dan efektif dalam pembelajaran.
Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk membawa proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
T Raka Joni, selanjutnya Gerlach dan Ely menyampaikan cara-cara yang dipilih dalam menyusun strategi meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik (Sungkowo, 2008; 4).
Metode Gallery Accounting adalah bagian dari contextual teaching and learning (CTL).
Di dalamnya termuat unsur discovery inquiry dengan langkah-langkah merumuskan masalah, melakukan tindakan, observasi, analisis data, kemudian mengomunisasikan hasilnya.
Gallery Accounting adalah strategi atau cara untuk menilai dan mengapresiasikan apa yang telah siswa lakukan setelah melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran siklus akuntansi perusahaan jasa, yang dimulai dari mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi dan menafsirkan persamaan dasar akuntansi.
Model pembelajaran gallery accounting menurut penulis sangat bagus jika diterapkan untuk mengajar materi akuntansi dengan alasan, pembelajaran dengan menerapkan gallery accounting yang dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa, meningkatkan kerja sama di antara siswa.
Bahkan pembelajaran lebih interaktif, karena di antara siswa dapat berkomunikasi langsung tentang pembelajaran yang mereka lakukan.
Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta prosesnya dapat ditingkatkan, sekaligus dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penggunaan Gallery Accounting terbukti dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa terkait Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa pada materi Sistem Informasi Akuntansi, Persamaan Dasar Akuntansi, dan Analisis Debit/Kredit bagi siswa SMA Negeri 1 Bawang. Meningkatnya aktivitas belajar siswa sangat berdampak pada naiknya hasil belajar. (igi2/ida)
Oleh : Supiyani S.Pd.
Guru Ekonomi SMA Negeri 1 Bawang, Kabupaten Batang
Editor : Agus AP