RADARSEMARANG.ID, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah kejuruan, bertujuan menyiapkan siswa dengan bekal yang cukup.
Sehingga ketika lulus siswa siap kerja, berwirausaha atau melanjutkan kuliah ke jenjang perguruan tinggi.
Salah satu program keahlian kebanggaan SMK Negeri 3 Magelang adalah Tata Boga.
Sekolah secara maksimal mentransfer ilmu dengan strategi dan metode yang siap menerjunkan lulusan-lulusan yang handal di bidangnya.
Penulis, sebagai pengampu mata pelajaran Dasar-dasar Kuliner berupaya mengembangkan kualitas pembelajaran. Agar siswa memiliki keterampilan yang dapat diterapkan setelah lulus sekolah.
Salah satu yang penulis lakukan adalah menerapkan probing-prompting strategy saat pembelajaran materi Bahan makanan kacang kacangan.
Menurut Aris Shoimin (2013), Probing adalah menggali atau melacak. Sementara prompting adalah mengarahkan atau menuntun.
Secara umum pembelajaran dengan menggunakan probing prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan baru yang sedang dipelajari.
Siswa kelas X jurusan Tata Boga, sebelumnya belum mengetahui pengetahuan tentang menu.
Hal itu membuat siswa kurang memahami jika hanya dijelaskan dengan metode ceramah. Siswa perlu dibangun rasa antusiasnya dalam mengikuti proses pembelajaran.
Selanjutnya penulis mengubah langkah pembelajarannya dengan Probing Prompting strategy.
Probing-Prompting strategy berhubungan dengan tanya jawab yang diharapkan dapat memotivasi siswa untuk memahami masalah perbedaan struktur menu dengan lebih mendalam.
Beberapa aktivitas yang penulis lakukan pada Probing-Prompting strategy adalah dengan memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi bahan makanan menu.
Selanjutnya memberikan waktu memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Sehingga siswa dapat merumuskan apa yang ditangkapnya dari pertanyaan tersebut.
Setelah itu secara acak, penulis memilih seorang siswa untuk menjawab pertanyaan sehingga semua siswa berkesempatan sama untuk dipilih.
Jika jawaban benar, pertanyaan yang sama juga dilontarkan kepada siswa lain untuk meyakinkan semua siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran namun.
Jika jawaban salah, diajukan pertanyaan susulan yang menuntut siswa berpikir ke arah pertanyaan yang awal tadi. Sehingga siswa bisa menjawab pertanyaan tadi dengan benar.
Pertanyaan ini biasanya menuntut siswa berpikir mendalam. Sifatnya menggali dan menuntun siswa. Sehingga semua informasi pada siswa akan membantunya menjawab pertanyaan awal terkait karakteristik menu makanan.
Penulis memberikan penguatan atau tambahan jawaban guna memastikan kepada siswa bahwa kompetensi yang diharapkan dari pembelajaran sudah tercapai dan mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam pembelajaran menu.
Probing-Prompting strategy mendorong dan menuntun siswa kelas X dalam melakukan aktivitas penyelidikan atau pemeriksaan menu makanan.
Yang bertujuan memperoleh sejumlah informasi yang telah ada pada diri siswa agar dapat digunakan memahami pengetahuan atau konsep baru terkait dengan menu makanan.
Dengan Probing-Prompting strategy, siswa mampu menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimilikinya dengan pertanyaan yang akan dijawab. (fu1/fth)
Herin Setyowati, S.Pd
Guru Mata Pelajaran Dasar-dasar Kuliner SMK Negeri 3 Magelang