Berbagai upaya telah dilakukan agar pembelajaran daring menjadi lebih baik dan menyenangkan, namun kenyataan di lapangan, siswa, orang tua dan guru sudah jenuh dengan pembelajaran ini.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dihadapkan pada tantangan seperti masalah sarana prasarana (laptop, smartphone), sinyal yang kurang stabil, bahkan sama sekali tidak ada akses internet, besarnya beban biaya kuota internet, walaupun kini Kemendikbud sudah memberikan bantuan data internet untuk guru dan siswa, serta masalah pada saat pembelajaran misal banyak siswa yang hanya ‘numpang’ absen bahkan copas tugas teman, dan lain-lain.
Kondisi yang demikian ini sedikit banyak juga terjadi di SMA Negeri 1 Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. Hampir di setiap kelas, baik itu kelas X, XI maupun XII ada siswa yang malas mengikuti dan mengumpulkan tugas-tugas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena alasan-alasan seperti di atas.
Dari sinilah diperlukan sebuah konsep keilmuan dan praksis pendidikan yang utuh, yang pada gilirannya dapat mengembangkan watak kewarganegaraan (Civil Disposition) peserta didik sebagai anak bangsa dan Warga Negara Indonesia (WNI).
PPKn bertujuan mengembangkan potensi Individu agar menjadi warga negara yang berakhlak mulia, cerdas, partisipatif dan bertanggungjawab. PPKn memiliki peranan yang sentral dalam pembentukan karakter warga negara yang baik.
Pembentukan karakter warga negara menjadi bagian dari kompetensi kewarganegaraan yang meliputi Pengetahuan Kewarganegaraan (Civic Knowledge), Keterampilan Kewarganegaraan (Civic Skill) dan watak atau Karakter Kewarganegaraan (Civic Disposition), sehingga dapat menumbuhkan karakter warga negara yang baik (Branson 1999 : 8-25).
Watak Kewarganegaraan berkembang secara perlahan sebagai akibat dari apa yang telah dipelajari dan dialami oleh seseorang di rumah, sekolah, komunitas dan organisasi masyarakat.
Ada banyak cara untuk mengembangkan watak kewarganegaraan peserta didik di sekolah, antara lain: pertama, dengan selalu mengingatkan siswa untuk terlebih dahulu menyampaikan salam, identitas diri dan kepentingannya saat berkomunikasi dengan guru.
Kedua, memberikan kalimat penyemangat/motivasi belajar di awal pembelajaran, menyelipkan video penyemangat dari orang-orang/tokoh yang sukses dalam dunia pendidikan.
Ketiga, menugaskan siswa untuk menuliskan dan memfoto kegiatan positif mereka selama di rumah. Misalnya, tentang hak dan kewajiban yang sudah dilakukan, mengingatkan siswa untuk selalu menjaga kebersihan, membantu orang tua dan menjalankan ibadah tepat waktu.
Keempa,t meminta siswa untuk aktif berperan dalam kegiatan yang sifatnya pemilihan di sekolah (memilih ketua OSIS/Pramuka) walaupun melalui daring.
Kelima, mengingatkan siswa tentang tugas-tugas PJJ secara berkala dan konsekuensinya jika tidak dikerjakan. Keenam, menghubungi dan menyemangati siswa secara pribadi melalui WA, bahkan mempersilakan siswa untuk datang langsung ke sekolah agar mereka dapat lebih leluasa menyampaikan masalahnya.
Dari penanaman nilai-nilai tersebut secara perlahan dan terus rutin dilakukan, tidak hanya dari guru PPKn, namun juga dengan kerja sama dari semua guru di sekolah, pada akhirnya sedikit demi sedikit siswa mulai berubah.
Mereka yang bermasalah dengan PJJ mulai berkurang, dan yang lebih diharapkan lagi ke depannya watak peserta didik dapat terbentuk menjadi warga negara yang ideal sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. (pai1/aro)
Guru Mapel PPKn SMA Negeri 1 Paninggaran, Kabupaten Pekalongan Editor : Agus AP