Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Tingkatkan Prestasi Belajar Sistem Suspensi dengan Metode ATI

Agus AP • Sabtu, 11 Maret 2023 | 05:22 WIB
Endang Muryati, S.Pd.
Endang Muryati, S.Pd.
RADARSEMARANG.ID, PARADIGMA pendidikan sekarang yang menuntut pembelajaran dengan pola student centered seharusnya dipahami oleh guru dengan memilih dan menerapkan model pembelajaran yang mengoptimalkan peran siswa. Hal ini akan menjadi sulit apabila guru kurang memahami karekteristik kemampuan siswa yang menjadi anak didiknya.

Karakteristik siswa yang berbeda dalam satu kelas menuntut kreatifitas guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Keterbatasan alokasi waktu tatap muka dan banyaknya materi yang harus tersampaikan terkadang menyebabkan proses pembelajaran menjadi kurang bermakna.

Guru dituntut untuk menuntaskan seluruh kompetensi dalam rentang waktu tertentu, tetapi disisi lain, karakteristik siswa yang berbeda menyebabkan tingkat daya serap dan ketuntasan dari sisi siswa menjadi kurang. Siswa-siswa dengan kemampuan tinggi dapat menuntaskan seluruh kompetensi yang disyaratkan, sementara siswa yang berkemampuan rendah dan sedang hanya beberapa kompetensi saja yang dapat dituntaskan.

Mata pelajaran produktif Teknik Sepeda Motor Khususnya kompetensi system suspensi di SMK adalah mata pelajaran yang menitik beratkan pada penguasaan ketrampilan (praktik). Hal ini menuntut penguasaan skill individu dari masing-masing siswa.

Pembagian kompetensi dalam mata pelajaran produktif yang saling berurutan menunjukan gambaran pencapaian prasyarat dari tiap-tiap kompetensi tersebut, maka saat melakukan praktik, siswa akan mengalami kesulitan. Peran guru dituntut lebih kreatif dalam menerapkan model pembelajaran agar daya serap materi menjadi tinggi. Perbedaan karakteristik kemampuan siswa terkadang menjadi kendala dalam menuntaskan materi tesebut secara keseluruhan.

Bloom dan Gagne dalam Nurdin (2005), mengelompokkan kemampuan siswa dalam tiga kelompok, yaitu : kelompok siswa dengan kemampuan belajar cepat, sedang dan lambat. Ketiga kelompok tersebut juga terdapat di kelas XI TBSM 1 SMK Negeri Karangpucung.

Hal ini dikuatkan dengan perolehan nilai ulangan harian pertama, pada mata pelajaran produktif kompetensi Sistem Rem, dimana diperoleh rantang nilai yang terlalu jauh, yaitu nilai tertinggi 95 sedangkan nilai terendah 40.

Rentang nilai tersebut dirasa cukup menggangu karena mata pelajaran kelompok produktif menuntut siswa untuk benar-benar menuntaskan kompetensi tersebut, sebelum menuju pada kompetensi berikutnya.

Kenyataan perolehan nilai tersebut mendorong penulis untuk melakukan perubahan model pembelajaran yang dirasa cocok dengan karakteristik materi dan siswa. Menurut Syafrudin (2005), semakin cocok model pembelajaran yang diterapkan guru dalam kelas dengan perbedaan kemampuan siswa, maka semakin optimal prestasi belajar yang dicapai siswa.

Model pembelajaran yang relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda, adalah model Aptitude Treatment Interaction (ATI).

Model pembelajaran yang dapat dipilih oleh seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran pada kondisi karakteristik kemampuan siswa yang berbeda adalah dengan model ATI. Secara subtantif dan teoritik ATI dapat dijadikan sebagai suatu konsep atau pendekatan yang memiliki sejumlah strategi pembelajaran yang efektif digunakan untuk individu tertentu sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Langkah-langkah pembelajaran ATI yaitu: Pertama, Melaksanakan pengukuran kemampuan masing-masing siswa melalui tes kemampuan (aptitude testing). Hal ini dilakukan guna untuk mendapatkan data yang jelas tentang karakteristik kemampuan (aptitude) siswa. Kedua, Membagi siswa atau mengelompokkan siswa menjadi tiga kelompok sesuai dengan klasifikasi yang didapatkan dari hasil aptitude testing. Pengelompokan siswa tersebut diberi label tinggi, sedang dan rendah.

Ketiga, Memberikan perlakuan (treatment) kepada masing-masing kelompok (tinggi, sedang dan rendah) dalam pembelajaran. Keempat, Bagi kelompok siswa yang memiliki kemampuan (aptitude) tinggi, perlakuan (treatment) yang diberikan yaitu belajar mandiri (self learning) dengan menggunakan modul atau buku-buku yang relevan.

Pemilihan belajar mandiri melalui modul didasari anggapan bahwa siswa akan lebih baik jika dilakukan dengan cara sendiri yang terfokus langsung pada penguasaan tujuan khusus atau seluruh tujuan. Dengan kata lain dengan menggunakan modul siswa dapat mengontrol kecepatan masing-masing, serta maju sesuai dengan kemampuannya.

Kelima, Bagi kelompok siswa yang berkemampuan sedang dan rendah diberikan pembelajaran regular atau pembelajaran konvensional sebagaimana mestinya. Keenam, Bagi kelompok siswa yang mempunyai kemampuan rendah diberikan special treatment, yaitu berupa pembelajaran dalam bentuk tambahan pelajaran (re-teaching) dan tutorial.

Pembelajaran menggunakan metode ATI yang penulis lakukan ternyata sangat tepat untuk diterapkan dalam pembelajaran dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda, hal ini di buktikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang nilainya mencapai di atas KKM. (ps1/zal)


Guru Produktif TBSM SMKN Karangpucung, Cilacap Editor : Agus AP
#SMKN Karangpucung #Guru Produktif TBSM #Metode ATI #Endang Muryati #Prestasi Belajar Sistem Suspensi