Salah satu upaya untuk meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran sejarah adalah dengan pembelajaran outdoor learning dengan memanfaatkan lingkungan sekitar peserta didik. Di antaranya pemanfaatan situs bangunan Kota Lama Semarang.
Menurut Rustam dan Santoso (2015), pembelajaran di luar kelas adalah metode di mana guru mengajak peserta didik belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan. Tujuannya untuk melibatkan pengalaman langsung peserta didik dengan lingkungannya sebagai sumber belajar yang sesungguhnya. Sehingga memperoleh pengetahuan tentang fenomena nyata yang terjadi, yang bisa membawa mereka pada perubahan perilaku terhadap lingkungan sekitar.
Berlakunya kembali proses pembelajaran tatap muka memberi kesempatan penulis untuk menerapkan pembelajaran outdoor learning dalam pembelajaran sejarah di kelas XI IPS 3 SMA Negeri 2 Mranggen dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi Pengaruh Renaissance Dalam Arsitektur Indonesia.
Renaissance berasal dari bahasa Perancis, yang artinya kelahiran kembali. Di mana bangsa Eropa menghidupkan kembali ilmu pengetahuan, filsafat yang membawa perubahan di berbagai lini kehidupan di Eropa menuju zaman modern. Kolonialisme bangsa Barat di Indonesia berdampak pada masuknya pengaruh renaissance.
Salah satunya bidang arsitektur. Di mana mereka mendirikan bangunan hampir di seluruh wilayah nusantara dengan gaya arsitektur yang berkembang pada periode Renaissance, seperti: gereja, kantor-kantor pemerintahan, jembatan, stasiun, dan benteng.
Gaya arsitektur Eropa pada masa Renaissance dapat ditemukan di kawasan situs Kota Lama Semarang. Yang secara visual menyajikan kemegahan arsitektur Eropa yang eksotis, artistik dan megah bergaya art deco. Sehingga menjadikan kota ini disebut sebagai miniatur negara Belanda (Little Netherland). Seperti : Gereja Imanuel (gereja blenduk), Gedung Marba, Lawang Sewu, Stasiun Tawang, Kantor Pos Besar, Pengadilan Negeri Semarang, dan lain-lain.(https://fariable.blogspot.com).
Langkah penulis dalam pembelajaran outdoor learning: pertama, penulis membagi kelas menjadi enam kelompok, masing-masing beranggotakan enam peserta didik sesuai dengan urutan absen. Kedua, penulis membagikan lembar observasi kepada masing-masing kelompok. Ketiga, penulis dan peserta didik datang ke situs kawasan Kota Lama Semarang untuk observasi. Keempat, peserta didik membuat laporan tentang arsitektur Kota Lama Semarang.
Kelima, masing-masing kelompok membuat laporan. Keenam, pada pertemuan berikutnya peserta didik mempresentasikan hasil laporannya dan menanggapi pertanyaan dari kelompok lain peserta didik yang lain, (begitu seterusnya dilakukan secara bergantian oleh masing-masing kelompok). Ketujuh, penulis merangkum dan memberi nilai.
Dengan pembelajaran outdoor learning lebih meningkatkan minat peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran sejarah. Khususnya materi Pengaruh Renaissance di Indonesia peserta didik dapat langsung memperhatikan alam sekitar sebagai fenomena yang nyata. Karena kedekatan peserta didik dengan sumber belajar. Peserta didik sambil belajar bisa berekreasi. Suasana menjadi lebih menyenangkan dan pembelajaran menjadi menarik. (*/fth)
Guru SMA Negeri 2 Mranggen, Kabupaten Demak Editor : Agus AP