
RADARSEMARANG.ID, Semarang – Program pembangunan rumah subsidi di Jawa Tengah masih menghadapi sejumlah tantangan dan kendala. Salah satunya persoalan terbatasnya konversi lahan sawah untuk perumahan.
Hal ini disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra), Ari Tri Priyono, saat kegiatan Himpera Jawa Tengah, di Semarang.
"Secara nasional, Jawa Tengah ditarget mampu menyumbang hingga 20 ribu unit rumah subsidi. Sementara pada tahun lalu, realisasi pembangunan rumah di Jawa Tengah disebut hampir mencapai 10 ribu unit.
"Dan tadi sudah saya sampaikan saya menarget teman-teman Himpera Jawa Tengah itu untuk sampai 13.000 (rumah), Syukur sampai 15.000. Saya pikir itu sudah 2/3 ya dari targetnya Jawa Tengah," ungkapnya.
Pihaknya mengaku optimistis target tercapai, alasannya pemerintah juga sangat profesional aktif. Namun demikian, Ari Triyono juga menyebut, masih adanya persoalan dan tantangan maupun kendala yang harus dihadapi.
Salah satu persoalan terbesar adalah banyak calon pembeli rumah subsidi yang gagal lolos pembiayaan akibat catatan kredit bermasalah dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.
"Sebenarnya setiap pengembang setiap perumahan itu yang yang mau beli banyak tapi banyak yang kena merah SLIK OJK-nya," katanya.
Selain masalah kredit, daya beli masyarakat juga disebut terus melemah akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin berhitung sebelum memutuskan membeli rumah.
"Tahun lalu saja daya beli masyarakat sudah terasa turun. Tahun ini rasanya akan makin turun. Orang jadi mikir kebutuhan dapur dan sekolah dulu sebelum berani ambil cicilan rumah," jelasnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




