Guru IPS dalam proses pembelajaran di kelas bukanlah sekedar menyampaikan materi, tetapi juga harus berupaya agar materi pelajaran yang disampaikan menjadi kegiatan yang menyenangkan dan mengupayakan terbentuknya kesadaran kritis pada siswa.
Dalam pembelajaran kritis (critical pedagogy) peserta didik diberikan keleluasaan untuk menemukan makna sendiri tentang apa yang dipelajarinya lewat proses objektivikasi pengalaman belajar yang bebas dari dominasi guru.
Proses pembelajaran IPS berbasis critical pedagogy dapat menjadikan peserta didik mencapai tahap pemikiran kesadaran kritis. Apabila guru tidak dapat menyampaikan materi dengan menarik dan tidak dapat memancing rasa bertanya dan kekritisan peserta didik, hal ini dapat menimbulkan kesulitan belajar, yang berakibat ketuntasan belajar sulit tercapai.
Dalam critical paedagogy, kata kunci yang melingkupi keseluruhan landasan., pelaksaan, dan upaya pencapaian tujuanya adalah adanya “kritik”. Kritik dalam pandangan critical pedagogy berarti ”usaha-usaha untuk mengensipasi diri dari penindasan dan alienasi yang dihasilkan oleh hubungan-hubungan kekuasaan di dalam masyarakat, sehingga mampu menyingkap kenyataan sejarah sekaligus hendak membebaskan masyarakat (Agus Nuryanto, 2008).
Menurut Smith (2008) yang menjadi perbedaan antara critical pedagogy dengan bentuk pendidikan lain adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam conscientizacao atau kesadaran tidak memiliki jawaban yang telah diketahui sebelumnya. Pendidikan bukanlah pengorganisasian fakta yang sudah diketahui sedemikian rupa sehingga orang melihatnya sebagai sesuatu yang baru.
Di sinilah, conscientizacao adalah sebuah pencarian jawaban-jawaban secara kooperatif atas masalah-masalah yang tidak terpecahkan yang dihadapi oleh sekelompok orang. Dengan demikian, tidak ada “ahli” yang mengetahui jawaban-jawaban tersebut dan pekerjaanya mentransfer jawaban- jawaban tadi. Setiap individu memiliki kebenaran yang sama, tetapi berbeda dalam hal cara melihat persoalan yang harus didefinisikan dan cara mencari jawabanya yang harus diformulasikan.
Mata pelajaran ekonomi mencakup perilaku ekonomi dan kesejahteraan yang berkaitan dengan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan kehidupan terdekat hingga lingkungan terjauh.
Menurut Nana Sudjana (2010) ranah kognitif bloom dari dimulai dari tingkat rendah hingga tinggi, yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan, pemahaman, aplikasi analisis, sintesis dan evaluasi. Ranah kognitif bloom kemudian direvisi oleh Anderson (2001), kognitif yang terdiri dari enam aspek yakni mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisa, mengevaluasi dan mencipta.
Dalam pembelajaran IPS ekonomi menggunakan pendekatan critical pedagogy membutuhkan kemampuan berpikir kritis, yang merupakan salah satu modal utama bagi peserta didik untuk menjadi manusia yang mandiri dalam kehidupan masa depan yang kompetitif.
Richard W Paul (dalam Hassoubah, 2007) mengemukakan bahwa jika kita mendorong anak-anak untuk berpikir secara kritis terhadap materi pelajaran, penggunaan bahasa, informasi yang mereka terima, keadaan lingkungan, dan prasangka yang dianggap suatu kebenaran, dan jika kita mendidik anak-anak untuk menguji struktur logika secara kritis, menguji ilmu pengetahuan dengan pengalaman, pada akhirnya akan menjadi orang dewasa yang bermoral dan bertanggung jawab. (bat2/ida)
Guru IPS SMPN 1 Pecalungan Editor : Agus AP