Dalam tulisan ini, penulis akan mengangkat dua dimensi Profil Pelajar Pancasila, yaitu Mandiri dan Bergotong Royong. Pada dimensi Mandiri, dijelaskan bahwa pelajar Indonesia memiliki prakarsa atas pengembangan dirinya yang tercermin dalam kemampuan untuk bertanggung jawab, memiliki rencana strategis, melakukan tindakan dan merefleksikan proses dan hasil pengalamannya. Untuk itu, pelajar Indonesia perlu memiliki kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi, serta memiliki regulasi diri. Sedangkan dimensi bergotong royong dijelaskan bahwa pelajar Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan kolaborasi dengan sukarela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan untuk kebaikan bersama.
Pelajar Indonesia selalu berusaha melihat kekuatan-kekuatan yang dimiliki setiap orang di sekitarnya, yang dapat memberi manfaat bersama. Mencegah terjadinya konflik dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain. Hal-hal yang harus dilakukan pelajar Indonesia untuk mewujudkan gotong royong adalah melakukan kolaborasi, memiliki kepedulian yang tinggi, dan berbagi dengan sesama.
Penerapan Profil Pelajar Pancasila di masa pandemi ini tidaklah mudah dilaksanakan. Banyak kendala yang dihadapi guru, antara lain waktu pertemuan dengan peserta didik sangat terbatas. Kendala lainnya adalah keterbatasan kuota internet jika penugasan dilakukan secara daring. Tetapi sebagai guru, tetap harus berusaha dengan berbagai metode dan strategi.
Mandiri dan bergotong royong sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan, karena keduanya sudah sering diterapkan dalam pembelajaran sebelum pandemi. Sekarang ini, keduanya menjadi hal yang wajib dilaksanakan dalam pembeljaran dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pelaksanaannya, guru menjelaskan tentang bagaimana seorang anak bisa mandiri melalui video yang dikirimkan melalui handphone orang tua. Kegiatan yang dapat menumbuhkan sikap mandiri diberikan oleh guru dalam bentuk tugas di rumah. Misalnya, ketika anak bangun tidur diminta membersihkan tempat tidurnya dengan dibantu orang tuanya karena anak masih duduk di kelas II SD Negeri Kecandran 01 Salatiga. Bukti pekerjaannya diserahkan ke guru dalam bentuk video pendek. Kegitan membersihkan tempat tidur ini dilakukan terus-menerus dan diharapkan menjadi suatu pembiasaan dan anak akan merasa bahagia ketika melakukannya.
Kegiatan lainnya yang dapat menumbuhkan kemandirian adalah menyiapkan buku-buku yang akan dipakai untuk belajar hari itu. Kegiatan ini juga tetap didampingi orang tuanya. Kedua kegiatan ini sepertinya terlihat sepele, tetapi justru dari pembiasaan kecil inilah yang akan menjadi pondasi dasar perkembangan karakter anak di masa yang akan datang. Dimensi bergotong royong juga bisa ditugaskan kepada peserta didik dengan arahan guru dan pendampingan orang tua.
Peserta didik diminta untuk membantu orang tua dalam pekerjaan rumah yang sederhana dan tidak membahayakan. Dibutuhkan kesabaran dan kerja sama orang tua dalam kegiatan ini. Semua penugasan dikirimkan pada guru melalui video pendek dan juga foto. Pada awalnya, memang ada orang tua yang tidak mau repot dengan penugasan ini, jadi meminta anak untuk melakukan penugasan yang diberikan ala kadarnya saja, yang penting mengumpulkan tugas. Pada saat ditanyakan secara lisan melalui video call, anak tersebut bercerita apa adanya. Guru kemudian memberikan pengertian kepada orang tuanya tentang makna dan tujuan penugasan ini.
Peranan orang tua dalam masa pandemi ini tetap menjadi halyang sangat penting dalam perkembangan emosi dan karakter anak, maka dibutuhkan kerja sama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. (ump1/aro)
Guru Kelas II SD Negeri Kecandran 01 Salatiga Editor : Agus AP