RADARSEMARANG.ID, Murid Sekolah Dasar kelas 1 adalah siswa yang masih dalam masa kanak-kanak.
Ketika menuntun mereka harus menyesuaikan dengan kemampuan, karakter, dan kodratnya.
Pembelajaran membutuhkan strategi yang tepat agar materi dapat terserap dengan baik.
Usia sekolah dasar menurut Ki Hadjar Dewantara masih dalam kodrat dolanan atau bermain.
Pembelajaran yang hanya disampaikan dengan metode ceramah saja membuat siswa menjadi bosan dan akibatnya tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.
Permasalahan yang ditemui di kelas 1 SD Negeri Ngluwar 2 Kecamatan Ngluwar Kabupaten Magelang adalah rendahnya minat dan kemampuan membaca permulaan.
Permasalahan yang mereka hadapi di antaranya malas memahami huruf, kesulitan memahami dalam merangkai huruf menjadi suku kata dan membentuk kata.
Membaca permulaan adalah proses membaca yang dilakukan pada masa kanak - kanak awal sekolah dasar. Proses membaca ini meliputi pengenalan huruf sebagai lambang bunyi bahasa.
Setelah proses atau tahap tersebut dikuasai, penekanan selanjutnya pada pemahaman isi bacaan.
Membaca permulaan merupakan tahap awal dalam belajar membaca yang difokuskan kepada mengenal simbol-simbol atau tanda-tanda yang berkaitan dengan huruf-huruf sehingga menjadi fondasi agar anak dapat melanjutkan ketahap membaca permulaan (Darwadi, 2002).
Menurut Steinberg (Ahmad Susanto, 2011: 83) membaca permulaan adalah membaca yang diajarkan secara terprogram kepada anak prasekolah.
Program ini merupakan perhatian pada perkataan-perkataan utuh, bermakna dalam konteks pribadi anak-anak dan bahan yang diberikan melalui permainan dan kegiatan yang menarik sebagai perantara penyampaian pembelajaran.
Membaca adalah proses mengolah bacaan secara kreatif dan kritis yang bertujuan memperoleh informasi secara menyeluruh, dan memahami dampak isi bacaan.
Membaca permulaan adalah tahapan belajar bagi siswa sekolah dasar di kelas 1.
Siswa harus menguasai teknik membaca permulaan agar dapat menyerap informasi yang di baca.
Guru harus menyampaikan teknik yang tepat dan menarik sehingga menumbuhkan minat untuk membaca.
Siswa kelas 1 SD belum memiliki kemampuan membaca yang sesungguhnya, masih dalam tahap belajar untuk memperoleh keterampilan dan meningkatkan kemampuan membaca.
Mereka masih dalam tahapan mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan siswa harus dapat menyuarakan lambing-lambang bunyi bahasa.
Siswa harus mampu mengartikan dan memaknai kosakata untuk kemahiran dalam berbahasa.
Pada tahapan membaca permulaan siswa kelas 1 SD dibagi menjadi dua periode yaitu tanpa buku dan dengan buku.
Pembelajaran membaca tanpa buku menggunakan media dan alat peraga misalnya gambar, kartu huruf, kartu kata, dan kartu kalimat.
Sedangkan membaca dengan buku menggunakan buku sebagai bahan pembelajaran.
Untuk menghadapi kendala dan kesulitan siswa, dibutuhkan strategi pembelajaran dengan menerapkan media yang tepat.
Media pembelajaran dapat menggunakan alat peraga, alat peraga adalah alat yang diguanakan untuk memperagakan konsep agar tampak lebih nyata.
Kartu huruf merupakan kumpulan abjad yang dituliskan pada potongan karton atau triplek.
Potongan kartu huruf dapat dipindah membentuk suku kata, kata, dan kalimat sesuai keinginan siswa.
Siswa juga menjadi lebih kreatif dan inovatif ketika ditantang untuk membentuk dan menyuarakan kata dan kalimat yang berhasil dibuat.
Kartu huruf dapat digunakan juga untuk menunjang model pembelajaran yang diterapkan misalnya dikombinasikan dengan pembelajaran berbasis proyek, kerja kelompok, bahkan permainan.
Kartu huruf sebagai alat peraga mempermudah siswa kelas 1 SD Negeri Ngluwar 2 Kecamatan Ngluwar dalam menyerap materi dan menemukan teknik membaca permulaan yang tepat.
Mereka termotivasi karena terpancing untuk merangkai huruf membentuk suku kata, kata, bahkan kalimat. Siswa tidak akan jenuh saat mengikuti pembelajaran.
Secara tidak langsung mereka terasah keterampilan untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.
Sikap percaya diri juga muncul ketika berhasil menemukan dan membunyikan rangkaian kata dari kartu huruf. Jadi model ini sangat direkomendasikan agar pembelajaran tidak monoton dengan metode ceramah yang hanya mendengarkan saja dan berpusat pada guru. (mn1/lis)
Watini, S.Pd. SD
Guru Kelas 1 SDN Ngluwar 2 Kec. Ngluwar, Kabupaten Magelang
Editor : Agus AP