Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Benarkah Gadget Menggantikan Iman?

Agus AP • Selasa, 11 Januari 2022 | 01:12 WIB
Yohana Mardiati, S.Ag.
Yohana Mardiati, S.Ag.
RADARSEMARANG.ID, KEHIDUPAN manusia kini sudah mulai sulit dijauhkan dari perangkat teknologi informasi. Data statistik membuktikan penggunaan telepon pintar terus meningkat di berbagai negara, juga disertai terus meningkatnya data lalu lintas telepon pintar. Pesatnya pertumbuhan dan pemakaian telepon pintar merupakan tren dunia saat ini yang memperlihatkan kebutuhan "all in one" berupa hiburan, sosialisasi, bisnis, pendidikan, keagamaan, dan informasi lainnya yang terintegrasi.

Simon Kahn, CMO Google Asia Pacific, baru-baru ini mengutip hasil survei yang melibatkan sekitar 1.200 responden pengguna gadget di Indonesia sejak Januari sampai

Maret 2015. Google mengungkap bahwa sekitar 67 persen para pemilik smartphone di Indonesia rupanya lebih memilih untuk menggunakan smartphone-nya sebagai alat untuk berbelanja online.

Sebelum ini, Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) telah merilis hasil riset nasional terkait jumlah pengguna dan penetrasi internet di Indonesia untuk tahun 2014 kemarin. Menurut hasil riset yang digelar atas kerjasama dengan pihak Pus Pusat Kajian Komunikasi (PusKaKom) FISIP Universitas Indonesia itu, disebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia kini telah mencapai angka 88,1 juta.

Inilah generasi yang sering disebut ‘Millenial Generation’ (generasi usia 13-25 tahun) yang saat ini menjadikan internet dan gadget sebagai trend gaya hidup (maaf) bahkan sebagai sumber rujukan.

Saat ini banyak orang menjadi penggila gadget –bahkan—sampai pada ketergantungan. Akibatnya lahir berbagai penyakit pasca era gadget; Insomnia (sulit tidur), Nomophobia (kepanjangan dari ‘no-mobile-phone-phobia), penyakit cemas jika dipisahkan dari gadget. Ada pula Texting Thumb (Tendinitis), cedera di bgian jempol atau disebut Blackberry Thumb.

Lihatlah generasi muda kita saat ini. Bangun tidur pegang hand phone, ke kamar mandi bawa hand phone, di sekolah sibuk hand phone, bahkan misa dan kebaktian (belum menyempatkan doa pagi dan bercengkrama dengan Allah) sudah membuka grup WhatsApp. Lebih parah lagi, sambil bawa motor atau nyetir masih sibuk pegang hand phone.

Di zaman seperti sekarang ini, sangat lah sulit untuk tidak hidup berdampingan dengan teknologi informasi, khususnya smart phone yang sudah sangat menjamur di berbagai lapisan masyarakat, dari kalangan ekonomi kelas atas sampai kelas bawah sekali pun.

Sadarkah engkau dengan realitas yang ada? Smart phone yang seharusnya menjadi sarana untuk mempermudah kita untuk melakukan aksi-aksi positif, lebih cenderung di pergunakan untuk hal-hal negatif.

Hal yang menjadi pergumulan karena hadirnya gadget pintar dapat membuat merosotnya moralitas warga khususnya kaum remaja dan pemuda. Begitu mudahnya mengakses hal-hal yang dapat merusak spiritualitas mereka. Tentu teknologi pada dasarnya tidak jahat. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, menemani kita dari pagi sampai malam, menyertai perasaan dan pikiran kita bahkan membantu kita mengambil keputusan.

Namun relasi yang nyata dengan Tuhan harus tetap diwujudkan dalam kebersamaan dan keterlibatan jemaat secara fisik. Pertemuan maya tidak dapat menyaingi keunggulan hubungan antar manusia secara tatap muka. Ketulusan dalam Kasih, Perhatian dan Pelayanan harus dipelihara agar tetap terjaga dan tidak tergantikan oleh komunitas maya.

Pendekatan yang lebih longgar terhadap gadget bukan satu-satunya perkembangan yang terkait penggunaan teknologi di beberapa tahun terakhir. Peningkatan penggunaan gadget ini jangan sampai mengubah cara ibadah dan bahkan mengubah apa arti menjadi religius. Seperti di SMPN 17 Surakarta. (pr2/zal)


Guru SMPN 17 Surakarta Editor : Agus AP
#SMPN 17 Surakarta #Gadget Menggantikan Iman #Guru SMPN #Yohana Mardiati