Selain itu cakupan materi muatan pelajaran matematika tidak seluas ketika muatan pelajaran matematika disendirikan. Hal tersebut mengakibatkan peserta didik tidak mendapatkan konsep matematika secara lebih matang dan mendalam.
Pemilihan model pembelajaran menjadi sesuatu hal yang tidak mudah bagi guru. Karena jika guru salah menerapkan model pembelajaran, dapat menjadi hambatan bagi keberhasilan proses belajar mengajar. Maka, sebelum memutuskan menggunakan suatu model pembelajaran, guru hendaknya memperhatikan materi ajar serta karakteristik siswa.
Mulyasa (2014: 143) menyampaikan model pembelajaran yang diutamakan dalam implementasi Kurikulum 2013 model pembelajaran inkuiri (inquiry based learning), diskovery (discovery learning), model pembelajaran berbasis proyek (project based learning), model pembelajaran berbasis permasalahan (problem based learning).
Mengingat dalam Kurikulum 2013 langkah-langkah pembelajaran yang digunakan menggunakan pendekatan saintifik atau ilmiah yang sering disebut dengan 6 M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasi). Sehingga model pembelajaran dengan pendekatan ilmiah atau saintifik sangat disarankan.
Menurut Suhandi Astuti (2017: 49) dalam pembelajaran guru memiliki peran yang sangat penting. Output berupa siswa yang unggul bukanlah sesuatu yang mustahil jika guru bekerja secara profesional. Apalagi dalam pembelajaran matematika tingkat SD langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh guru harus benar-benar jelas. Dengan demikian siswa tidak merasa bingung dengan apa yang disampaikan guru.
Terlebih dalam penyampaian pembelajaran tingkat SD akan lebih baik jika saat pengajarannya menggunakan benda konkret, sehingga konsep yang diterima siswa dapat tertanam.
Sebagai guru kelas 5 di SDN Karangtalun 1, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, dalam pembelajaran matematika penulis tidak fanatik terhadap metode pembelajaran tertentu. Tetapi bergantung pada materi yang hendak disampaikan. Hanya saja dua model yang sering penulis pakai adalah discovery learning dan problem based learning.
Beberapa kelebihan model discovery learning sebagaimana disebutkan Kemendikbud (2016: 62) di antaranya membantu peserta didik dalam memperbaiki dan meningkatkan keterampilan dan proses-proses kognitif. Peserta didik melakukan penyelidikan untuk mencapai suatu keberhasilan. Situasi belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan.
Kemendikbud (2016: 63) juga menyatakan beberapa kelemahan model ini di antaranya tujuan pembelajaran sulit tercapai, ketika guru dan siswa sudah terbiasa mengajar dengan menggunakan cara-cara belajar lama. Pembelajaran menggunakan model discovery learning tidak efisien untuk mengajar siswa dalam jumlah banyak. Tidak memberikan kesempatan untuk berpikir tentang sesuatu yang akan ditemukan oleh siswa. Begitu pula terdapat kelebihan dan kekurangan model problem based learning.
Kelebihan model problem based learning menurut Hamruni Hamruni (2009: 157) di antaranya meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik. Menantang kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi peserta didik. Membantu peserta didik mengenai cara mentransfer pengetahuan yang dimiliki peserta didik untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata. Menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan.
Selain kelebihan tersebut, problem based learning juga memiliki kelemahan seperti yang dikemukakan oleh Hamruni (2009: 157). Yakni bagi peserta didik yang tidak memiliki minat atau tidak memiliki rasa percaya diri bahwa sesulit apapun masalah yang dipelajari itu dapat dipecahkan, peserta didik akan merasa enggan mencoba. Keberhasilan penerapan pembelajaran membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.Tanpa pemahaman mengapa peserta didik berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, peserta didik tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. (mn1/lis)
Guru Kelas 5 di SDN Karangtalun 1, Ngluwar, Kabupaten Magelang Editor : Agus AP