Permasalahan yang dihadapi penulis ketika mengajarkan pembahasan teks anekdot ini adalah para peserta didik kurang mampu memahami makna tersirat di dalam teks anekdot yang disajikan. Rendahnya pemahaman peserta didik bisa diakibatkan oleh beberapa faktor. Pertama, kurangnya kemampuan dalam menganalisis tulisan karena umumnya para peserta didik lebih menyukai hal-hal yang bersifat praktis. Kedua, kurang aktif membaca. Dilansir dari wartaekonomi.co.id, Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara dalam hal literasi dan membaca sehingga tingkat literasi peserta didik juga sama rendahnya.
Teks anekdot ini penulis ajarkan pada salah satu KD di kelas X SMK Negeri Ampelgading, yaitu KD 3.5 dan 4.5 mengenai “Mengevaluasi teks anekdot dari aspek makna tersirat dan mengonstruksi makna yang tersirat dalam sebuah teks anekdot.”
Untuk dapat mengonstruksi makna tersirat dalam sebuat teks anekdot ini penulis menggunakan media animasi dalam pembelajaran. Di era digital seperti sekarang, sudah pasti media animasi sudah cukup banyak dimanfaatkan. Tidak hanya di bidang perfilman dan design, tetapi juga di bidang pendidikan seperti pada ruang guru dan zenius yang menerapkan pembelajarannya secara online.
Animasi merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa, sehingga menghasilkan gerakan. Animasi dapat menjelaskan suatu kejadian secara sistematis dalam tiap waktu perubahan dan animasi dapat memaparkan sesuatu yang rumit dan sulit dijelaskan hanya dengan gambar atau kata-kata. Kemudian media animasi merupakan media yang berisi kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa, sehingga menghasilkan gerakan.
Penulis menggunakan media animasi dalam pembelajaran teks anekdot karena dapat meningkatkan kemampuan analisis peserta didik melalui gambar yang ditampilkan juga membantu peserta didik untuk menangkap makna tersirat di dalam teks karena teks anekdot yang disajikan berbentuk gambar bukan tulisan. Faktanya, manusia lebih mudah mengingat gambar daripada tulisan.
Langkah awal yang penulis lakukan untuk menggunakan media animasi ini sebagai media pembelajaran yaitu, pertama, penulis mencari bentuk teks anekdot yang bergambar atau mengubah bentuk teks anekdot yang full text menjadi cerita bergambar. Kedua, membuat lembar kerja untuk peserta didik. Lembar kerja ini terdiri dari dua bagian yaitu, bagian teks dan bagian analisis teks yang nantinya bagian ini akan berisi soal-soal yang harus dijawab peserta didik.
Ketiga, membagikan lembar kerja yang sudah penulis buat kepada peserta didik. Jika pembelajaran dilaksanakan secara offline, maka bisa diberikan dalam bentuk print out. Tetapi jika online, ini akan lebih mudah jika diberikan dalam bentuk pdf. Keempat, memberi waktu bagi peserta didik untuk menganalisis teks dan mengerjakan soal pada lembar kerja. Kelima, melakukan pembahasan setelah lembar kerja dikumpulkan.
Melalui media animasi ini, penulis menyimpulkan peserta didik lebih mudah mengonstruksi makna tersirat di dalam teks anekdot sekaligus meningkatkan kemampuan dalam menganalisis teks dengan cara yang jauh lebih menyenangkan daripada membaca teks penuh tulisan yang bagi beberapa peserta didik justru membingungkan dan lebih sulit untuk memahami materi. (fbs1/aro)
Guru Bahasa Indonesia SMK Negeri Ampelgading, Kabupaten Pemalang
Editor : Agus AP