Tujuh Mata Lomba Digelar dalam Festival Tunas Bahasa Ibu

Maria Novena Sinduwara • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 18:46 WIB

 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti saat membuka Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan pentingnya pelestarian bahasa daerah di tengah keterbukaan zaman dan lunturnya kedekatan generasi muda dengan akar budaya.

Hal tersebut disampaikan dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan Badan Bahasa Kemendikdasmen dan Balai Bahasa Jawa Tengah di Kabupaten Semarang, Jumat (9/10).Kegiatan tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin.  

"Saya menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu. Ini cara yang sangat penting dan manfaatnya sangat besar dalam rangka melestarikan bahasa daerah, menanamkan nilai-nilai luhur, dan rasa cinta kepada budaya daerah,"ungkapnya.

Menurutnya, forum seperti FTBI menjadi sangat penting ketika banyak anak muda, terutama Generasi Z dan Generasi Alpha, yang mulai meninggalkan tradisi dan budaya luhur bangsa. Padahal bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan Indonesia. Pengajaran bahasa daerah tidak cukup hanya sebagai muatan lokal di jenjang SD dan SMP. Lebih penting adalah pembiasaan penggunaan dalam komunikasi sehari-hari.

"Kami di kementerian bersama Bapak Presiden berkomitmen melaksanakan amanat UUD 1945 bahwa pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Dan bahasa adalah satu bagian penting budaya bangsa yang akan kita lestarikan. Tidak hanya sebagai muatan lokal dalam kurikulum, itu sangat penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah membiasakan menggunakan bahasa daerah ketika berkomunikasi di dalam keluarga atau di forum-forum resmi yang diselenggarakan pemerintah daerah. Karena bahasa itu soal kebiasaan dan pembiasaan,"lanjutnya.

Baca Juga: "Ora Popo Bapak Adol Lemah, Sing Penting Iso Kuliah”, Kisah Haru Mahasiswa Unnes Bikin Berkaca-kaca

Menteri juga menyoroti nilai tata krama dalam bahasa Jawa, yakni unggah-ungguh. Pihaknya berharap FTBI tidak hanya mengejar juara, melainkan menumbuhkan rasa cinta pada bahasa daerah, meningkatkan kemampuan berbahasa, serta membangun jejaring persahabatan antarpeserta.

"Yang sangat melekat dalam bahasa Jawa adalah tata krama, unggah-ungguh atau akhlak,"tegasnya.

Sementara itu Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin menjelaskan peserta yang mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu kali ini merupakan perwakilan dari SD dan SMP kota/kabupaten se Jawa Tengah. Para peserta merupakan putra, putri terbaik yang ada di Jawa Tengah yang telah melalui proses seleksi. Ada tuju mata lomba yang diselenggarakan dalam tiga hari kedepan ejak Jumat (9/10) hingga Minggu (11/10). Ada tujuh Mata lomba mulai dari menulis dan membaca aksara jawa, mendongeng (ndongeng), seserahan, nulis cerkak, maca geguritan, nembak mocopat dan ndhagel jen.

"Bahasa ibu tidak hanya sekadar warisan, tetapi warisan yang harus tetap hidup dan diwariskan dari generasi meregenerasi berikutnya agar tetap lestari,"pungkasnya.(ria)

Editor : Baskoro Septiadi
Mendikdasmen Abdul Mu'ti Festival Tunas Bahasa Ibu Kabupaten Semarang