
RADARSEMARANG.ID - Truk pangan berangkat. Cabai datang dari sentra produksi. Beras tersedia. Pasar murah dibuka. Dalam laporan, semuanya tampak bergerak.
Namun, keluarga tidak berbelanja dengan laporan. Mereka berhadapan dengan harga di lapak pedagang. Di situlah keberhasilan stabilisasi harga semestinya diuji.
Pada September 2026, Jawa Tengah mencatat inflasi bulanan 0,31 persen. Menurut Badan Pusat Statistik, tekanan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terutama cabai, beras, daging ayam, dan telur.
Pemerintah tentu tidak berpangku tangan. Jawa Tengah telah menggelar lebih dari seribu kali Gerakan Pangan Murah (GPM), memperkuat kios pangan, serta mendorong badan usaha milik daerah menjadi pembeli komoditas strategis. Jawa Tengah juga meraih penghargaan sebagai TPID Provinsi Berkinerja Terbaik 2026.
Capaian itu patut diapresiasi. Kenaikan harga dalam satu bulan pun tidak membuktikan seluruh program gagal. Namun, banyaknya kegiatan menyisakan pertanyaan: ketika pasokan membaik, apakah manfaatnya benar-benar sampai ke dompet konsumen?
Harga Punya Perjalanan
Cabai yang dipetik petani tidak langsung tiba di dapur keluarga. Ada pengumpul, penyortiran, angkutan, pasar grosir, hingga pengecer. Sebagian barang rusak sebelum laku. Gabah pun harus dikeringkan, digiling, disimpan, lalu dikirim sebagai beras. Setiap tahap memerlukan ongkos dan menanggung risiko.
Karena itu, harga di tingkat petani dan pengecer tidak selalu bergerak serempak. Pengecer bisa saja masih menjual barang yang dibeli mahal kemarin sore. Ongkos angkut tidak serta-merta turun ketika panen membaik. Pedagang juga harus menanggung cabai yang membusuk sebelum terjual.
Dalam ekonomi, perjalanan perubahan harga tersebut disebut transmisi harga. Penurunan di tingkat petani bisa sampai ke konsumen dengan jeda. Ada kemungkinan harga lebih cepat naik daripada turun, tetapi dugaan itu harus diuji dengan data, bukan langsung dianggap sebagai ulah pedagang.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




