RADARSEMARANG.ID - Gemerincing suara pedang katana mengadu yang terdengar kasar dan mengintimidasi berayun sembari berpacu dalam genggaman sang empunya.
Sang ksatria berdiri menantang berambisi untuk menjatuhkan musuh-musuh yang makin mendekat untuk menghabisinya.
Berbekal dengan keberanian dan pedang di tangan yang ia hunuskan ke depan, dengan gagah-berani ia menerjang musuh-musuhnya demi sejengkal demi jengkal tanah yang ia lindungi.
Baca Juga: Sejarah Pemindahan Pusat Pemerintahan Kabupaten Semarang, dari Kanjengan Sampai Ungaran
Skenario tersebut terdengar seperti sebuah scene dalam film Samurai ala-ala Jepang di periode Edo Negeri Sakura di masa lalu.
Namun, gambaran tersebut juga sangat cocok jika dibandingkan dengan sebuah kejadian heroik yang pernah terjadi di Ungaran, Jawa Tengah. Kota kecil yang jauhnya beratus mil dari Jepang.
Dalam peristiwa yang dikenal sebagai upaya penyegatan konvoi sekutu dari arah Semarang menuju medan perang Ambarawa, Kota Ungaran menjadi saksi bagaimana para pahlawan mati-matian menghentikan bantuan sekutu menuju Ambarawa.
Kejadian ini berawal dari perintah Komandan Resimen 18/ Divisi V Letkol Soegeng di Temanggung yang memerintahahkan Mayor Soeyoto bersama pasukannya untuk ikut terjun langsung ke front Ambarawa.
Melewati jalur Bandungan, Mayor Soeyoto kemudian "turun gunung" menuju Ungaran untuk menghalau bantuan tambahan pasukan oleh sekutu dari Semarang.
Pencegatan ini bertujuan agar strategi capit urang dan pengepungan yang sedang dilakukan para pejuang di Ambarawa berhasil tanpa adanya serangan balik dari pihak sekutu.
Bersama dengan pasukan milik Soewito Haryoko yang berjaga di kawasan Karangjati, Mayor Soeyoto bergerak lebih dahulu ke depan tepatnya di Langensari. Mereka pun memblokade jalan utama antara Babadan-Ungaran menggunakan pedati-pedati yang disilangkan di jalanan tersebut.
Pagi harinya ketika pasukan sekutu mulai datang diiringi pesawat Mustang (kerap disebut warga lokal sebagai Cocor Merah). Dengan segera kontak senjata pun terjadi antara para pejuang melawan para serdadu Gurkha dan Jepang yang berada di garis depan.
Setelah salah satu pemimpin bernama Letda Sri Suwarno gugur, pasukan TKR mundur menuju Tandon Air Kalidoh Langensari. Disinilah pertarungan sengit bak samurai Jepang terjadi.
Baca Juga: Sejarah Gedung Kuning Ungaran, Bukti Kejayaan Hindia Belanda di Kota Serasi
Tanpa menghiraukan pesawat udara musuh yang terus membombardir Langensari dan sekitarnya, Mayor Soeyoto yang berada di sebelah timur Tandon Kalidoh langsung dihampiri sekompi pasukan infanteri sekutu dalam penyergapan yang cepat.
Saking cepatnya, pertarungan tersebut berubah dari adu tembakan menjadi pertarungan jarak dekat yang dimana Mayor Soeyoto menggunakan sebilah pedang katana khas Jepang.
Sebagai ahli pedang, Mayor Soeyoto merubah pertempuran tersebut menjadi arena perang samurai melawan para Jepang dan Gurkha (Para prajurit Gurkha terkenal dengan ahli penggunaan senjata tajam bernama Kukri khas Nepal).
Bersama dengan prajurit bernama Sumarman, keduanya terhimpit dan dikepung oleh para serdadu Jepang. Naasnya karena perkelahian yang heroik ini, Mayor Soeyoto gugur dengan hormat akibat tebasan katana yang menyabet wajahnya serta berondongan tembakan di dadanya.
Akibat gugurnya sang komandan, para pasukan TKR makin kalap dan bertempur secara nekat sehingga korban dari kedua belah pihak berjatuhan dengan jumlah yang besar.
Meskipun harus menderita kerugian sebesar 21 orang gugur termasuk sang komandan, pasukan pejuang republik dinilai berhasil menghambat bantuan sekutu mencapai Ambarawa dan pihak Republik berhasil memenangkan Pertempuran Ambarawa.
Untuk mengenang kepahlawanan pasukan TKR di Ungaran, dibangunlah Monumen Perjuangan Lemah Abang yang terletak di sisi jalan raya Ungaran-Ambarawa, tepatnya di persimpangan arah menuju Bandungan.
Source: Monumen Perjuangan Jawa Tengah
Editor : Baskoro Septiadi