RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Potensi kopi yang ada di Kabupaten Semarang terbilang sangat melimpah.
Terdapat beberapa wilayah yang terdapat komoditas kopi dengan ciri khasnya masing-masing. Termasuk di Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono.
Desa Pledokan memiliki salah satu jenis kopi yang hanya ada di Sumowono yakni kopi wulung. Kopi tersebut diklaim bisa mengobati berbagai macam penyakit.
Kopi wulung menjadi salah satu kebanggaan bagi warga Des Pledokan. Karena kopi tersebut bisa tumbuh tanpa ditanam oleh para petani.
Salah satu petani dari Kelompok Tani Suka Maju I, Desa Pledokan, Waluyo mengatakan kopi wulung merupakan jenis kopi yang susah untuk ditanam oleh para petani kopi di Desa Pledokan. Karena tidak bisa ditanam melalui proses pembibitan.
"Kopi wulung ini proses tumbuhnya ya tumbuh begitu saja mas, istilahnya 'tukulan'. Dan hanya bisa ditemui di sini (Desa Pledokan), " ujarnya.
Tanaman kopi wulung pun berbeda dengan tanaman kopi lainnya. Bentuk tanamannya bisa tumbuh menjulang ke atas. Kemudian banyak ditumbuhi daun muda.
Yang paling terlihat berbeda yakni warna dari buah kopi dan daunnya yang berwarna ungu."Ukuran bijinya juga lebih kecil dibandingkan dengan jenis kopi lainnya, " katanya.
Dengan sulitnya proses tanam, kopi yang memiliki cita rasa pahit itu pun sudah mulai langka ditemui.
Untuk itu para petani kopi Pledokan melakukan proses stek antara kopi wulung dengan kopi lainnya.
"Karena selain kopi wulung, di sini kami memiliki unggulan kopi robusta, arabika, dan juga ekselsa atau beo, " terangnya.
Namun jika kopi wulung distek dengan kopi selain robusta maka akan mempengaruhi rasa dari kopinya. Tetapi jika distek dengan kopi robusta, rasanya tidak akan berbeda jauh.
"Khasiatnya pun tidak akan terpengaruh. Karena kopi wulung adalah jenis kopi yang biasa digunakan untuk obat berbagai macam penyakit. Seperti disentri, asam lambung, hipertensi, asam urat dan penyakit dalam lainnya, " lanjutnya.
Cara mengkonsumsi kopi wulung pun berbeda dengan cara meminum kopi yang lainnya. Warga Pledokan biasa meminum kopi wulung satu hari sekali, yakni saat sebelum tidur.
"Tapi saat membuatnya tidak boleh menggunakan gula agar bisa menikmati cita rasa pahit dari kopi wulung, " ungkapnya.
Harga kopi wulung juga berbeda dengan harga kopi yang lainnya. Per kilogram biji kopi wulung bisa sampai Rp 400 ribu sampai Rp 450 ribu.
Namun jika sudah dalam bentuk kemasan dan bentuk bubuk bisa mencapai Rp 700 ribu hingga Rp 850 ribu.
Sementara itu, Kepala Desa Pledokan Amin mengatakan kopi menjadi salah satu sektor terbesar yang membuat masyarakat sejahtera. Karena mayoritas masyarakat merupakan petani kopi.
"Banyak inovasi-inovasi yang sudah dilakukan para kelompok tank yang ada di Desa Pledokan, " katanya.
Pihak pemdes juga mendorong warga untuk terus memproduksi kopi-kopi khas Desa Pledokan.
Karena rata-rata warga desa menjual kopi dalam bentuk whole bean atau bubuk dalam kemasan dengan nama produknya Gumuk Dali yang diproduksi total ada tujuh kelompok tani dan dua kelompok wanita tani. (nun/ton)
Editor : Baskoro Septiadi