Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

35 Persen Pekerja Mismatch Career, Binus Semarang Bekali Mahasiswa dengan AI dan Entrepreneur

Khafifah Arini Putri • Senin, 11 Mei 2026 | 10:06 WIB
Direktur Kampus BINUS Semarang Fredy Purnomo (kanan) ketika menjelaskan tantang perguruan tinggi di zaman AI.
Direktur Kampus BINUS Semarang Fredy Purnomo (kanan) ketika menjelaskan tantang perguruan tinggi di zaman AI.

 

RADARSEMARANG.ID - Fenomena lulusan yang bekerja tidak sesuai bidang masih menjadi persoalan di dunia pendidikan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan hanya 64,64 persen pekerja muda yang bekerja sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Sementara 35,36 persen lainnya mengalami ketidaksesuaian atau career mismatch.

Kondisi ini membuat perguruan tinggi mempunyai tantangan besar untuk membawa lulusan mempunyai keterampilan mendasar. Ditambah perubahan dunia kerja juga semakin cepat. Trutama akibat perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), membuat perguruan tinggi dituntut menyiapkan lulusan yang lebih adaptif.

Direktur Kampus BINUS Semarang Fredy Purnomo menyampaikan untuk menjawab tantangan itu, Binus Semarang menyiapkan pendekatan pembelajaran berbasis transformasi digital dan AI untuk membekali mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja.

Menurutnya pendidikan saat ini tidak bisa lagi hanya berfokus pada teori. Karena itu, mahasiswa harus dibekali pengalaman nyata dan kemampuan memahami teknologi yang digunakan industri. BINUS juga menerapkan konsep Human AI Collaboration dalam kurikulumnya. Seluruh kurikulum disebut telah dirombak agar mahasiswa mampu menggunakan AI secara etis dan tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi.

"Mahasiswa kami dibekali dengan AI experience agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami dan memanfaatkannya secara strategis," kata Fredy di Kampus Binus Semarang.

Fredy menjelaskan, sejak awal kuliah mahasiswa sudah dibentuk memiliki digital mindset. Kampus juga membekali mahasiswa dengan kemampuan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab serta menanamkan mental entrepreneur di semua program studi.

“Jurusan apapun itu juga disiapkan. Jadi, walaupun nanti mereka bekerja di perusahaan pun, mereka tetap punya mental survival seperti seorang entrepreneur,” katanya.

Fredy menilai perkembangan dunia digital membuat pendekatan psikologi juga ikut berubah. Karena itu, pemanfaatan AI, machine learning, big data, hingga data analitik mulai diterapkan untuk memahami karakter generasi muda.

“Psikologi digital karena kami percaya bahwa memahami seorang psikolog memahami karakter anak-anak sekarang harus memahami dunia digitalnya mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan saat ini, sekitar 85 persen lulusan BINUS bekerja sesuai bidang ilmunya. Sisanya memilih jalur karier berbeda, tetapi tetap memanfaatkan kompetensi yang dipelajari selama kuliah.

“Ada contohnya alumni kami lulusan komputer tapi malah jadi profesional dancer. Tapi tetap dalam pelaksanaan sehari-hari dia memanfaatkan skill di komputernya,” katanya.

Sementara dari sisi psikologis, Psikolog Gary Collins Brata Winardy menilai kekhawatiran orang tua dan calon mahasiswa saat menentukan pendidikan kini semakin besar akibat perkembangan teknologi yang cepat.

“Kekhawatiran akan masa depan adalah hal yang wajar. Orang tua dan anak mengalami kekhawatiran dan ketakutan salah memilih jurusan. Apalagi saat perkembangan teknologi membawa ketakutan bahwa jurusan yang saat ini dipilih tidak lagi relevan di kemudian hari,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut kerap membuat seseorang mengalami overthinking saat menentukan pilihan pendidikan.

“Ketika seseorang tidak memiliki gambaran yang jelas tentang masa depan, mereka cenderung overthinking dan ragu dalam menentukan pilihan. Karena itu, pendidikan yang mampu memberikan arah, pengalaman nyata, dan exposure terhadap dunia kerja akan sangat membantu mengurangi kecemasan tersebut,” pungkasnya. 

Pandangan itu juga dirasakan orang tua mahasiswa BINUS, Andi Purnama Hardjani. Ia menilai perkembangan anaknya selama kuliah tidak hanya terlihat dari sisi akademik, tetapi juga pola pikir dan kepercayaan diri.

“Yang saya lihat di BINUS Semarang, anak saya tidak hanya tumbuh secara pengetahuan, tapi juga cara berpikirnya jadi lebih terstruktur dan lebih berani,” ungkapnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#Binus semarang #Artificial Intelligence #ai