RADARSEMARANG.ID – Konten kreator sekaligus alumni UIN Raden Mas Said, Panji Putra, akhirnya speak up di media sosial pribadi miliknya.
Sikap ini berawal dari banyaknya aduan pada dirinya, terkait registrasi marketplace pinjaman online (Pinjol) kepada para mahasiswa baru UIN Raden Mas Said.
Panji Putra menyayangkan sikap Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) yang melakukan komersialisasi data Mahasiswa Baru (Maba) hanya untuk sponsorship.
Sebelum membuat konten tersebut, Panji Putra mengaku telah terlebih dahulu menelaah dan mengkonfirmasi kebenaran informasi dengan pihak kampus.
Setelah dikonfirmasi, Putra mengatakan, bahwa hal tersebut benar adanya. Serta hanya demi keperluan sponsorship kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
“Saya mendefinisikan langkah tersebut sebagai komersialisasi mahasiswa baru, kok justru maba sudah dikenalkan dengan aplikasi pinjol. Ini sangat berbahaya,” ungkapnya saat dihubungi radarsolo.com.
Pihaknya juga menjelaskan, dalam instruksi tersebut, mahasiswa diharapkan untuk membawa KTP asli dan memasukkan data-data pribadi.
Dia menilai tindakan tersebut sangat berbahaya bagi mahasiswa baru. Putra juga menyayangkan sikap DEMA yang seharusnya menjadi perwakilan mahasiswa, justru menginstruksikan hal-hal yang berbahaya bagi mahasiswa baru.
“Setelah saya tanyakan pada DEMA motif melakukan hal tersebut, hanya untuk sponsorship kegiatan PBAK. Padahal setelah saya bertanya pada pihak Birokrat, PBAK itu dananya paling besar kok masih kurang, dan jutsu mencari dari pinjol,” jelasnya.
Panji Putra juga menegaskan, sebelum dirinya membuat konten tersebut, dia telah menelaah dan mengonfirmasi kebenaran informasi dengan pihak rektorat kampus setempat.
Namun ternyata, pihak rektorat, terkhusus rektor UIN tidak tahu menahu terkait hal tersebut.
“Dari internal ini terlihat kurang koordinasi dan sosialisasi, serta serampangan dalam menjadi sponsorship dalam kegiatan mahasiswa baru,” imbuhnya.
Alumni Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPII) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) 2022 itu berharap, jangan sampai nalar kritis mahasiswa bisa dikebiri dengan kekuasaan.
Ditambahkannya, beberapa maba juga mengaku takut untuk berbicara terus terang. Dengan adanya konten tersebut, Panji berharap bisa mewakili mahasiswa baru yang merasa dirugikan.
“Jadi mereka (maba) juga diberikan limit pinjaman, walaupun dari DEMA menginstruksikan boleh dipakai atau tidak, ya silakan. Itu sangat bahaya, siapa tahu adik-adik yang masih polos mencet limit dan terikat atau terserang pinjol akan bahaya,” paparnya.
Panjit juga menyoroti dan menyayangkan tindakan DEMA UIN Raden Mas Said yang playing victim dengan konten yang dirinya buat.
Panji mengatakan, DEMA memberikan pengaruh di grup-grup maba bahwasanya konten yang ia buat adalah hoaks.
“Mereka (DEMA) menghegemoni ke maba bahwa konten saya hoaks, ujaran kebencian, dan hanya pansos saja. Tidak kelas bagi saya pansos pada mahasiswa yang nalar kritisnya jongkok. Saya harap teman-teman DEMA bisa introspeksi dari kritik ini, bukan justru manipulatif dan playing victim,” tandasnya (ian/wa)
Editor : Agus AP