RADARSEMARANG.ID, Semarang – Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Seorang gadis bernama, Lailatul Mukarromah masih meluangkan waktu menjadi pelatih silat.
Pekerjaannya saat ini menjadi reporter di Jakarta. Bak seperti dokter, seorang wartawan tentu sangat sibuk, harus bekerja 24 jam dalam tujuh hari.
Selalu sigap ketika ada kejadian mendadak yang harus diliput. Kendati demikan, ia tetap bisa membagi waktu untuk bekerja dan menyalurkan hobi.
Baca Juga: Viral! Pengemudi Mobil Pelat TNI Cekcok dengan Warga di Pintu Tol Jagorawi
Ketika temen-temannya yang lain pergi main ketika weekend dan libur kerja. Gadis berusia 25 tahun ini justru memilih untuk meluangkan hobi silatnya.
Ia juga pernah menjadi atlet dan mengikuti banyak kejuaraan silat, baik di tingkat kewilayahan, provinsi, hingga nasional.
“Jadi atlet silat dari tahun 2014, pernah sampai di kejurnas juga. Kalau jadi pelatih baru mulai tahun 2017,” jelas Lailatul kepada Jawa Pos Radar Semarang, di Kota Lama Semarang, Kamis (23/1).
Baginya silat bukan sekadar olahraga bela diri. Tetapi juga seni mengendalikan diri, emosi, dan pikiran.
Lailatul telah mengabdikan dirinya sebagai pelatih silat selama tujuh tahun. Ia percaya bahwa filosofi silat kaya akan nilai-nilai kehidupan, serta dapat menjadi sarana untuk membentuk karakter generasi muda yang tangguh dan sabar.
Setiap hari Sabtu dan Minggu, ia mengisi ekstrakurikuler silat di Pondok Pesantren Al Fatah Cileungsi Bogor. Ia melatih di semua jenjang pendidikan.
Mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Tantangannya adalah melatih anak-anak jenjang SD yang masih awam terhadap silat.
Mereka mulai bejalar dari nol, selain itu anak-anak yang masih polos ini sering kali berantem dan ramai ketika sedang latihan.
Baca Juga: 2025 Pemerintah Bakal Buka Lowongan 400 Ribu CPNS, Ini Formasi Lengkapnya
“Tantangan ada, terutama yang anak-anak SD ini melatih kesabaran diri. Mereka sering kasar atau berantem-beranteman, jadi energi negative itu dialihkan latihan silat supaya bisa mengontrol emosi,” ungkapnya.
Pengalaman menariknya selama menjadi pelatih ialah dapat mengantarkan anak didiknya meraih podium satu. Baginya, prestasi itu menjadi kepuasan tersendiri.
“Ketika saya menjadi pelatih dan berhasil membawa anak didik saya naik podium satu itu kepuasan tersendiri,” tandasnya. (kap/bas)
Editor : Baskoro Septiadi