“Peachy Creation lahir untuk menjadi solusi bagi orang-orang yang di rumah aja, tapi bisa melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti melukis menggunakan painting kit,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Awalnya, Tasha–sapaan akrabnya- ragu untuk memulai usaha ini. Ia masih takut karena overthinking apakah usahanya akan berhasil atau tidak. Ditambah ia belum memiliki pengalaman bisnis sama sekali.
Keluarga Tasha pun terus memberikan semangat dan dukungan. Mereka berperan penting memantapkan langkahnya. Terutama dorongan dari sang kakak.
“Yang penting kamu mau mencoba dan berusaha. Berhasil atau gagal belakangan, karena proses yang terpenting. Kalau kamu menyerah, itu artinya kamu sudah gagal,” katanya membacakan quotes dari kakaknya yang masih ia simpan.
Gadis kelahiran 2001 ini belajar banyak dari pengalaman dan kesalahan. Istilah kerennya learning by doing. Mulai dari ketepatan waktu, attitude sebagai penjual, konsistensi, dan tanggung jawab ketika paket nyasar atau rusak.
Dia paham betul mengelola pendapatan Peachy Creation. Bahkan Tasha menyisihkan pendapatannya untuk ditabung sebagai modal usaha lainnya. “Aku nabung biar bisa bikin bisnis baru lagi. Rencananya aku mau bangun bisnis di bidang desain fashion sama makanan kreatif gitu,” ujarnya.
Sampai saat ini, ia sudah menjual lebih dari 1.000 kanvas dengan pendapatan lebih dari Rp 100 juta. Padahal ketika merintis Peachy Creation, ia hanya membutuhkan modal awal Rp 3 juta.
Tasha juga tak lupa memberikan self-reward atas pencapaiannya. Namun dengan cara yang berbeda. Alih-alih jajan atau jalan-jalan, ia fokus mengembangkan skill. Tasya mengikuti berbagai kursus, talkshow, dan seminar yang bisa meningkatkan kemampuannya. (mg20/aro) Editor : Agus AP