RADARSEMARANG.ID - Bagi masyrakat yang melintasi Jalan Raya Dua Tegal-Slawi pasti menemukan sebuah bangunan tua di sisi timur jalan.
Bangunan mirip rumah yang kini terlihat usang tersebut masih berdiri dengan kokoh dengan banyak tanaman hias didepannya.
Namun tak banyak orang yang tahu ternyata bangunan tersebut dahulunya merupakan sebuah Stasiun Kereta Api.
Jika dilihat dari lokasinya, bangunan tersebut tak hanya berdampingan dengan jalan raya namun juga bersebelahan dengan rel kereta api aktif di sebelah timurnya.
Dahulu bangunan bersejarah tersebut merupakan Stasiun Kudaile yang berdiri disisi jalur kereta api Tegal-Prupuk.
Kudaile sendiri merupakan nama dari sebuah desa/kelurahan yang bagian dari Kecamatan Slawi yang menjadi ibu kota Kabupaten Tegal.
Lokasi stasiun non aktif ini berada sekitar 600 meter kearah utara dari perempatan Langon, Trayeman.
Dalam sejarahnya stasiun ini merupakan bagian dari Jalur kereta api Tegal-Balapulang yang dibangun oleh perusahaan Belanda, Javasche Spoorweg Maatschappij (JSM).
Jalurnya diresmikan pada tanggal 17 November 1886 hingga diambil alih oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) pada tanggal 16 September 1895.
Saat masih aktif, stasiun ini merupakan stasiun untuk menaik-turunkan penumpang kereta lokal Tegal-Prupuk yang masih ditarik dengan lokomotif uap.
Selain itu stasiun ini juga dijadikan gudang penyimpanan hasil bumi seperti tebu, singkong, kayu jati, dan lain-lain.
Namun stasiun ini akhirnya ditutup pada tahun 2005 karena jalur ini sempat tidak ada kereta api penumpang yang melintas.
Stasiun yang terletak pada ketinggian 30 mdpl saat ini termasuk dalam aset wilayah Daerah Operasi V Purwokerto.
Kini stasiun ini hanya terlihat bangunan stasiun, bekas wesel ke jalur 2, bekas peron, dan plang aset dari PT KAI yang terpasang tidak jauh dari bangunan tersebut.
Editor : Baskoro Septiadi