Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kopi, Cicilan, dan Pura-Pura Bahagia

I
Penulis: Iskandar❯
Iskandar
Iskandar

Advertisement

 

Oleh: Iskandar, Jurnalis Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID - NAMANYA Daniel. Usianya masih cukup muda: 40 tahun. Jabatannya manajer di sebuah perusahaan kondang di Semarang. Barang-barang yang dipakainya branded. Kemeja, kaos, gadget, sepatu, semuanya branded. Sampai ke pakaian dalamnya, mungkin juga branded. Anaknya dua. Keluarganya tampak harmonis. Sering healing, ke luar kota, ngafe, jalan-jalan ke mal, dan kerap nonton konser. 

Advertisement

Kalau dilihat sekilas, hidupnya tampak baik-baik saja. Sore itu, Daniel memenuhi undangan saya untuk sekadar ngopi di dekat kantornya di seputar Pleburan. Ia berkeluh kesah. Sudah setahun ini, gajinya tak naik. Pendapatannya segitu-segitus aja. “Tapi harga-harga semua naik, ini yang bikin kepala saya pusing,” ucapnya, sembari mengepulkan asap rokok mild-nya. Lantas, ia tertawa kecil. Tawa khas orang yang sebenarnya sedang lelah.

Sebagai kelas menengah, Daniel merasa berada di posisi yang serba tanggung. Tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan pemerintah. Tapi juga tidak cukup kuat menghadapi kenaikan biaya hidup yang datang bertubi-tubi. Pajak mobilnya bahkan sudah nunggak dua tahun. Tabungannya makin tipis karena terus dipakai menambal kebutuhan rumah tangga. Biaya sekolah anak naik. Harga bahan pokok naik. Tagihan listrik naik. Belum lagi tekanan pekerjaan yang makin berat.

“Tapi ya gimana,” katanya lagi. “Kalau enggak ngopi atau keluar sebentar, rasanya kepala mau pecah.”

Advertisement

Saya lirik sepatunya. Sepatu running terbaru berlogo centang. “Nyicil kartu kredit,” ucapnya sebelum saya tanya harganya. Bagi Daniel, duduk berjam-jam di kafe sambil minum kopi, bukan lagi soal gaya hidup. Itu cara paling sederhana untuk bertahan waras. Pergi ke mal seminggu sekali bukan karena hidupnya berlebih. Tapi karena ia butuh ruang untuk melupakan tekanan hidup barang sebentar. Dan ternyata, Daniel jelas bukan satu-satunya.

Hari ini kita lihat atau baca di medsos konser-konser musik dipenuhi ribuan penonton, kafe tetap ramai, pusat perbelanjaan tetap sesak. Di media sosial, orang-orang masih tampak bahagia. Masih ada yang membeli sepatu mahal, menonton konser, staycation, atau berburu kopi kekinian.

Lalu, sebagian pejabat negara membaca semua itu sebagai tanda bahwa ekonomi Indonesia masih baik-baik saja. “Kalau ekonomi susah, kenapa konser penuh?” “Kalau rakyat tertekan, kenapa mal ramai?” Narasi seperti itu terus diulang. Bahkan ketika nilai dolar terus merangkak naik (terkini sudah Rp 18.000) dan tekanan ekonomi mulai terasa, masih ada statemen yang terdengar jauh dari kenyataan rakyat. Seolah-olah selama kafe, mal masih ramai dan konser masih dipenuhi penonton, berarti masyarakat tidak sedang kesulitan. Padahal belum tentu begitu.

Fenomena ini sebenarnya sudah lama dijelaskan dalam teori yang dikenal sebagai lipstick effect. Istilah ini dipopulerkan oleh Leonard Lauder, mantan CEO perusahaan kosmetik Estée Lauder, pada awal 2000-an. Fenomena lipstick effect adalah teori dalam ekonomi dan perilaku konsumen yang menjelaskan bahwa ketika kondisi ekonomi sedang lesu, masyarakat justru tetap membeli barang atau pengalaman yang memberi rasa senang, hiburan, atau “kemewahan kecil” sebagai pelarian psikologis dari tekanan hidup.

Advertisement
Editor : Baskoro Septiadi
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer