RADARSEMARANG.ID, Semarang - Hujan deras yang turun tanpa jeda pada Jumat (15/5) malam mengubah suasana Jalan Jembawan I, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, menjadi kepanikan. Suara gemuruh tanah longsor memecah malam.
Aspal jalan runtuh perlahan, lalu ambles ke aliran Kali Silandak. Warga yang panik hanya sempat menyelamatkan diri sambil menerobos hujan menuju Masjid Al-Hikmah.
Baca Juga: Warga Gotong Royong Benahi Tanggul Sungai Plumbon Semarang yang Jebol
Sabtu (16/5) siang, terlihat bekas longsoran tampak menganga di perbatasan permukiman warga dengan sungai.
Hanya sedikit bagian badan jalan atau selebar 50 sentimeter menggantung di tepi longsor. Sementara sebagian besar lainnya sudah hilang terbawa runtuhan tanah.
Garis police line membentang menutup akses. Ekskavator terparkir di sisi jalan, bersiap melakukan penanganan darurat.
Di sekitar lokasi, lumpur masih menempel di dinding rumah warga. Kasur, pakaian, hingga perabot rumah tangga dijemur seadanya di bawah cuaca mendung.
Warga tampak keluar masuk gang sempit sambil menyelamatkan barang yang masih bisa dipakai.
Lurah Kalibanteng Kulon, Parjono, mengungkapkan, kerusakan jalan sebenarnya sudah terdeteksi sejak Maret lalu. Saat itu warga mulai melaporkan munculnya retakan di Jalan Jembawan I.
Pihak Kelurahan kemudian meneruskan laporan ke sejumlah OPD seperti Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang dan Disperkim Kota Semarang, serta BBWS untuk dilakukan pengecekan.
Baca Juga: Warga Mangkang Kulon Semarang yang Terseret Banjir Ditemukan 150 Meter dari Lokasi Awal
Maret lalu, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya rongga di bawah talut jalan. Rongga tersebut diduga terbentuk akibat gerusan air dan aktivitas ikan sapu-sapu yang membuat struktur tanah semakin rapuh.
Seiring waktu, atau awal Mei 2026, retakan jalan terus melebar hingga akhirnya tak mampu menahan beban tanah di atasnya.
"Awalnya hanya retak kecil, tapi makin lama makin lebar. Puncaknya tadi malam saat hujan deras, talut dan jalan langsung longsor," ujarnya.
Menurut Parjono, longsoran memiliki panjang sekitar 100 meter dengan kedalaman mencapai 3,5 hingga 4 meter.
Ambrolan bermula dari depan Masjid Al-Hikmah lalu merembet ke arah selatan. Akibatnya akses utama warga RT 3, RT 6, dan RT 7 lumpuh total.
Baca Juga: Jembatan di Jalan Honggowongso Semarang Ambrol, Diduga Ini Penyebabnya
Sebanyak enam kepala keluarga dengan total 25 warga terdampak langsung. Mereka mengungsi sementara di Masjid Al-Hikmah setelah air dan longsoran datang begitu cepat.
"Pemerintah kecamatan bersama BPBD, Dinas Sosial, dan PMI telah menyalurkan bantuan logistik serta membuka dapur umum untuk para pengungsi," tandasnya.
Parjono menambahkan, upaya penanganan sementara sebenarnya sudah dilakukan dengan penambalan aspal curah dan pemasangan pancang bambu.
"Namun, derasnya hujan membuat kondisi tanah semakin labil dan penahan darurat hanyut terbawa arus," ungkapnya.
Salah satu warga terdampak, Dwi Susilo, mengaku air mulai naik cepat selepas magrib. Hujan deras dari wilayah atas membuat debit Kali Silandak melonjak drastis.
Diakui, warga sebenarnya sempat mencoba mengantisipasi. Namun, derasnya air membuat mereka tak punya banyak waktu.
"Air datang cepat sekali setinggi 1,5 meter. Kami langsung fokus menyelamatkan keluarga," katanya.
Dwi menuturkan retakan jalan sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa bulan lalu. Awalnya warga mengira hanya retakan biasa akibat usia jalan.
"Lama-kelamaan permukaan jalan terus turun dan pondasi di bawahnya diduga terkikis arus air," ujarnya.
Malam saat longsor terjadi menjadi pengalaman paling mencekam baginya. Air banjir bahkan sempat mencapai setinggi leher orang dewasa.
Disebutkan, mesin cuci, kursi, pakaian, hingga berbagai barang rumah tangga hanyut dan rusak diterjang banjir.
"Yang penting tadi malam selamat dulu. Barang-barang banyak yang tidak sempat diselamatkan," ujarnya.
Ia menunjukkan, bekas genangan masih membekas jelas di tembok rumah warga. Beberapa kendaraan sengaja dititipkan ke rumah tetangga sejak awal Mei setelah jalan dipasangi police line karena dinilai membahayakan.
Bagi Dwi dan warga lainnya, longsor kali ini menjadi yang terparah sepanjang ingatannya tinggal di kawasan tersebut sejak kecil.
"Kami berharap jalan dan talut segera diperbaiki agar warga tidak lagi hidup dalam bayang-bayang longsor setiap kali hujan deras turun di Kota Semarang," harapnya. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi