RADARSEMARANG.ID, Semarang - Tanggul Sungai Plumbon, di RW 4 Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, jebol Rabu (10/12) malam.
Total ada tiga titik tanggul yang jebol hingga menggenangi puluhan rumah warga.
Dari informasi yang ada, setiap kali curah hujan tinggi wilayah yang dilewati Sungai Plumbon memang rawan banjir, karena kondisi tanggul yang cukup tua.
Selain itu, sedimentasi sungai juga sudah sangat tinggi sehingga terkadang air sungai limpas ke permukiman.
Lurah Mangunharjo, Siti Komariyah, mengatakan ada tiga titik tanggul yang jebol puluhan rumah di RW 04 terdampak limpasan air dari Sungai Plumbon.
"Kemarin mamang hujan, tapi curah hujan di wilayah hulu kiriman air sangat banyak. Jadi debit air semakin tinggi, tanggul sungai tidak bisa menampung. Ada tiga tanggul yang jebol di wilayah RT 06," katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (11/12).
Siti menjelaskan, untuk wilayah yang terdampak adalah RT 06 lantaran ada sekitar 40 rumah terendam banjir. Banjir juga meluas ke RT 03 dan RT 04, masing-masing meredam sekitar 15 rumah.
Dia menjelaskan, jika banjir karena tanggul jebol menjadi agenda tahunan setiap curah hujan tinggi. Tahun 2025 ini, Kelurahan Mangunharjo tercatat mengalami dua kali talud jebol dengan titik lokasi yang berbeda.
"Talut jebol ini agenda tahunan, sebelah sini diperbaiki, yang sebelah sana gantian ambrol. Tidak bisa diprediksi, harapan warga ada normalisasi sungai," paparnya.
Namun, rencana normalisasi Sungai Plumbon masih terkendala proses pembayaran ganti untung lahan.
Dari 300 rumah warga yang terdampak, baru 75 rumah yang menerima pembayaran.
"Warga yang belum menerima ganti rugi diharapkan bisa segera dibayarkan, sehingga mereka yang berdomisili sepanjang Sungai Plumbon bisa relokasi ke tempat yang lebih aman dan tidak lagi khawatir setiap musim hujan," pungkasnya.
Sementara itu, Camat Tugu, Eko Agus Padang, mengatakan upaya penanganan untuk mitigasi jebol telah dilakukan sejak awal November.
Pihak kecamatan bersama warga melakukan kerja bakti untuk penambalan talud retak, dan pemasangan sand bag.
Sayangnya, limpasan air dari wilayah hulu yang cukup besar membuat talud yang sudah tua tetap jebol. Untuk penanganan sementara warga tengah bergotong royong, dibantu DPU, BPBD, serta BBWS untuk melakukan penanganan darurat terhadap tiga titik tanggul yang jebol tersebut.
"Rencananya, akan dibuatkan kisdam terlebih dahulu menggunakan trucuk dan sand bag. Setelah itu, BBWS berjanji membangun talud permanen. Kisdam berfungsi menahan aliran air sementara sambil menunggu pembangunan talud permanen sepanjang sekitar 40 meter," jelasnya.
Pihaknya mengaku, untuk warga yang terdampak, sebuah dapur umum dan posko kesehatan sengaja disiagakan.
Warga kata dia, berharap normalisasi Sungai Plumbon bisa segera direalisasikan, agar dapat menjadi solusi permanen mengatasi masalah ini.
"Normalisasi jadi pemecah masalah, apalagi warga sangat resah karena beberapa titik tanggul yang rawan jebol bisa saja terjadi banjir kapan saja," pungkas dia. (den)
Editor : Baskoro Septiadi