RADARSEMARANG.ID, Semarang - Deru mesin pompa masih terdengar dari tepi Kali Sringin, Minggu (26/10) pagi.
Suara itu seperti musik harapan bagi warga Genuk, Semarang, yang lima hari terakhir berjibaku dengan banjir. Perlahan tapi pasti, genangan yang sempat melumpuhkan aktivitas mulai surut.
Camat Genuk, Pranyoto terlihat lega, meski wajahnya masih menyimpan lelah setelah berhari-hari berjaga di lapangan. “Alhamdulillah, hari kelima ini sudah banyak titik yang surut,” ujarnya.
Penanganan banjir di Kecamatan Genuk melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah kota, provinsi, pusat, hingga BBWS.
Fokus utama saat ini, kata Pranyoto, adalah mengoptimalkan 27 pompa yang tersebar di berbagai titik krusial.
“Pompa dari DPU Kota kita pasang di beberapa lokasi, salah satunya di Kali Babon, Trimulyo. Sekarang air di sana sudah turun,” jelasnya.
Hal serupa juga terjadi di Terboyo Wetan. Pompa Kali Sringin yang sempat macet kini sudah menyala penuh.
“Hari ini sudah on lima unit, makanya genangan di Terboyo juga mulai berkurang,” imbuhnya.
Sementara itu, di depan RSI Sultan Agung dan kawasan Gebangsari, air masih tersisa dengan ketinggian antara 15 hingga 50 sentimeter.
Namun, kondisinya jauh lebih baik dibanding dua hari sebelumnya. Di beberapa titik seperti Muktiharjo Raya hingga Gebangsari, genangan tinggal tersisa di spot-spot kecil.
“Kalau besok tidak hujan deras lagi, kami perkirakan 90 persen wilayah sudah surut,” ujar Pranyoto penuh harap.
Di tengah penanganan teknis, perhatian terhadap warga tetap menjadi prioritas. Pemerintah Kecamatan Genuk mendirikan 17 titik dapur umum yang tersebar di kelurahan-kelurahan terdampak.
“Setiap kelurahan ada minimal satu titik. Trimulyo dan Terboyo Wetan itu dapur umumnya aktif penuh,” katanya.
Dapur-dapur tersebut menyiapkan ratusan nasi bungkus setiap hari. Bahan logistik datang dari Pemerintah Kota Semarang, BPBD, dan berbagai pihak non-pemerintah seperti Baznas, PMI, hingga komunitas dan perusahaan swasta.
“Relawan HMI, NGO, sampai CSR perusahaan turun langsung. Ada yang kirim bahan mentah, ada juga yang bantu distribusi nasi bungkus,” jelasnya.
Baca Juga: Empat Kelurahan di Gayamsari Terendam Banjir, Air Berwarna Hijau Lumut
Selain dapur umum, posko bencana tingkat kecamatan juga diaktifkan di Kelurahan Bangetayu Wetan. Di sana petugas bersiaga 24 jam membantu administrasi dan kebutuhan mendesak warga.
Meski banjir mulai surut, Camat Pranyoto tetap mengingatkan warganya untuk tidak lengah. Salah satu penyebab genangan yang sulit surut adalah sampah di saluran air.
“Mohon jangan buang sampah sembarangan. Sampah ini bisa menyumbat aliran, bahkan merusak pompa,” tegasnya.
Ia juga meminta orang tua agar mengawasi anak-anak yang kerap bermain air saat banjir. “Air banjir itu berbahaya, banyak kotoran dan arusnya bisa deras. Lebih baik anak-anak di rumah saja,” pesannya.
Kini, genangan di Genuk perlahan mengering. Warga mulai membersihkan rumah, jalan-jalan kembali terlihat ramai.
Namun, deru pompa yang terus bekerja jadi pengingat bahwa perjuangan belum benar-benar selesai.
“Kalau hujan lagi, kami siap. Tapi semoga tidak sampai separah kemarin,” tutup Pranyoto. (fgr)
Editor : Baskoro Septiadi