Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kasus Sengketa Lahan di Bendan Ngisor Semarang, Warga Pasang Spanduk Penolakan

Ida Fadilah • Selasa, 5 Agustus 2025 | 00:50 WIB
Spanduk penolakan warga RT 07/RW 01 Kelurahan Bendan Ngisor atas kehadiran Juladi Boga Siagian yang berkonflik sengketa tanah.
Spanduk penolakan warga RT 07/RW 01 Kelurahan Bendan Ngisor atas kehadiran Juladi Boga Siagian yang berkonflik sengketa tanah.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Masalah sengketa lahan yang terjadi di RT 07/RW01 Kelurahan Bendan Ngisor bertambah panjang.

Dari sengketa lahan yang berubah jadi tertutupnya akses jalan anak sekolah viral karena menyusuri sungai, kini muncul persoalan anyar.

Terbaru, warga setempat menolak kehadiran Juladi Boga Siagian. Spanduk penolakan dipasang di pagar dekat rumah Juladi dan rumah Sri Rejeki (pemilik lahan).

Dalam banner tersebut warga menghimbau untuk yang bersangkutan dapat segera pindah.

Adanya penolakan itu dibenarkan Ketua RT 07, Sugito. Ia menyatakan spanduk itu dipasang Minggu (3/8/2025).

Tak hanya spanduk itu saja, bukti warga keberatan Juladi sekeluarga juga dengan penandatanganan petisi. Surat itu ditanda tangani sebanyak 22 orang, juga disertakan bukti-bukti foto perbuatan Juladi.

Dalam surat keberatan itu warga khususnya bagian sekitar Jalan Lamongan Selatan 2 dan sebagian wilayah RW 03 merasa keberatan atas perilaku dan status Juladi yang dinilai sudah sangat meresahkan.

Di antaranya, perilaku Juladi yang melakukan aktivitas yang menimbulkan polusi udara (bau) dan penyakit (menimbun sampah) di sekitaran dia tinggal dan ketika ditegur tidak mau tahu dan justru marah-marah.

Poin dua, warga menilai Juladi membiarkan semua anjing yang dimilikinya berkeliaran di area kampung dan memangsa hewan peliharaan warga sekitar.

Sudah beberapa kali diingatkan, tetapi kembali bersikap acuh tak acuh dan justru kembali mengulanginya.

Kemudian, Juladi juga dinilai tidak pernah mau ikut kegiatan warga seperti kerja bakti, melayat, dan sosialisasi.

"Sudah ada petisi dari dari warga. Itu bukan masalah saya mengizinkan atau tidak, itu adalah kehendak warga, kemauan warga yang memasang seperti (spanduk, Red) itu," kata dia.

Menanggapi adanya spanduk itu, Juladi yang ditemui di rumahnya mengatakan baru mengetahui spanduk di Facebook. Ia mengaku kaget ada spanduk yang seolah memprovokasi warga.

"Saya juga kaget, kenapa ada penolakan? Apakah benar-benar warga apa memang, inisiatif si pelapor. Saya tidak tahu," tutur dia usai mencari rosok.

Atas hal itu, ia belum bisa mengambil sikap. Ia hanya mencari keadilan saja dan bertanya di mana letak kesalahannya.

"Kenapa masalah personal digabungkan dengan masalah penyerobotan tanah. Memang penyerobotan tanah itu sudah dari awal. Sri Rejeki ini memang sudah melakukan intimidasi, digabung-gabungkan dengan ada orang-orang yang memang mungkin sentimen atau gimana, namanya bermasyarakat itu kan ada yang pro dan kontra. Ada yang suka dan tidak suka dengan diri kita," tambahnya.

Soal menjemur barang, ia menegaskan itu bukan sampah, namun kertas yang basah dan setelah kering di bersihkan kembali.

Kemudian masalah anjing, ia mengaku setiap kali di lepas selalu dalam penjagaan.

Kemudian atas permintaan warga agar pindah, ia meminta agar mereka juga memberikan solusi, pindahnya kemana karena mereka tak punya tempat tinggal lain.

"Tolong saya berikan suatu solusi, pindahnya ke mana. Jangan main asal usir. Itu udah kena HAM. Saya warga negara, punya hak juga loh. Harus kasih tempat untuk kami. Kasih tempat untuk kami di mana kami akan tinggal," tutur dia.

Senada, istrinya Imelda juga meminta perlindungan pada negara atas hal ini.

"Kami minta perlindungan dengan pemerintah dan aparat, kepada dan dewan, presiden," ucapnya.

Dirinya mengaku khawatir nanti warga anarkis. Ia takut keluarganya mendapat perlakuan buruk usai adanya spanduk penolakan itu.

"Kami takut warga anarkis seperti ramai-ramai datang, apakah disiram bensin atau apa, saya takut. Saya minta perlindungan semua anggota lurah, camat, walikota, gubernur, presiden. Saya ini sudah gemeter ketakutan," harapnya. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #Sengketa Lahan