RADARSEMARANG.ID - Di Jalan Pemuda, Kota Semarang ada sebuah toko legend yang masih tetap eksis. Namanya Toko Nam Bie.
Toko alat tulis dan perlengkapan kantor tertua di Kota Semarang ini sudah 87 tahun beroperasi tepatnya sejak 1938.
Toko bergaya klasik itu masih berdiri tegak dan sederhana. Tak terlalu mencolok. Tetapi siapa sangka, ternyata toko itu menyimpan sejarah panjang penuh liku.
Toko ini sudah ada sejak era sebelum kemerdekaan. Namun bukan didirikan oleh keluarga Agus Wahyudi, pemilik sekarang. Ayahnya membeli toko ini dari pemilik lama pada 1938.
Saat itu lokasi toko berada di titik yang kini menjadi Toko Jam Germany, Jalan Pemuda. Baru pada 1946, toko berpindah ke alamat yang sekarang.
“Saya generasi kedua. Ayah saya wafat 1979. Tahun 1980, toko ini saya pegang,” cerita Agus Wahyudi.
Saat itu, ia masih mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi Universitas 17 Agustus (UNTAG) Semarang.
Pada awalnya, Nam Bie menjual alat tulis sekolah seperti toko kebanyakan. Namun memasuki era 80-an, mulai bermunculan toko-toko besar seperti Gramedia dan Gunung Agung.
Ia lantas fokus pada alat tulis dan perlengkapan kantor, seminar, hingga kebutuhan lembaga formal.
“Saya cari celah. Kantor itu butuh barang lengkap, satu tempat selesai. Itu yang saya kejar," jelasnya.
Keputusan itu tidak salah. Hingga kini, toko ini tetap didatangi pelanggan setia, bahkan dari luar kota.
Diakui bisnis yang dijalankan tidak mudah. Tantangan besar datang dari maraknya barang palsu.
“Bayangin, pena Rp 2.000 dipalsu. Apalagi bolpoin mahal kayak Pilot. Banyak banget KW-nya,” ucapnya.
Di sisi lain, kemajuan teknologi pelan-pelan menggerus kebutuhan akan alat tulis. Kantor yang dulu butuh lemari filing, kini cukup beli laptop. Kertas kalkir tergantikan AutoCAD. Mesin tik dan spidol proyektor kini tinggal kenangan.
Satu nilai yang tak pernah ia lepaskan adalah kepercayaan. Ia masih ingat saat awal mengambil alih toko.
Modal cekak, karyawan hanya dua orang. Saat belanja, ditegur karena hanya membeli enam item. Tapi setelah tahu ia anak dari pendiri Nam Bie, para pemasok langsung percaya.
“Itu modal pertama saya, nama baik bapak saya. Sampai sekarang saya jaga,” kata Agus dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bagi Agus, kepercayaan adalah warisan paling mahal. Karena itu ia hanya menjual barang asli dan bekerja sama dengan pihak yang bisa dipercaya.
Ia juga menjaga hubungan jangka panjang dengan pemasok dan pelanggan. “Saya bisa beli dari tangan pertama karena dipercaya,” tandasnya.
Karyawan yang mendampingi Agus pun bukan orang baru. Banyak yang sudah ikut sejak zaman ayahnya.
Termuda saja masa kerjanya lebih dari 10 tahun. “Anak baru itu murah, tapi repot. Salah ambil barang, nggak tahu istilah.” jelasnya.
Urusan regenerasi, Agus tak serta-merta mewariskan begitu saja. Anak-anaknya pun harus belajar dulu.
Tak hanya soal dagang, tapi soal prinsip, strategi, dan relasi. Ia mengaku belum bisa melepaskan penuh.
“Saya bilang, sekolah itu jangan aneh-aneh. Sing penting mudeng. Supaya bisa tak dampingi.” ujarnya.
Toko Nam Bie kini tetap melayani berbagai kebutuhan kantor dan seminar. Meski tak sepopuler retail besar, toko ini tetap jadi rujukan mereka yang mencari kelengkapan dan keaslian.
Cabang di Depok masih aktif, meski sebagian besar aktivitas tetap berpusat di Jalan Pemuda. “Kami bukan toko besar, tapi kami dipercaya. Itu yang paling penting,” tutup Agus sambil tersenyum. (fgr/fth)
Editor : Baskoro Septiadi