RADARSEMARANG.ID, Semarang - Momen libur Lebaran membawa berkah bagi industri kuliner tradisional.
Termasuk Wingko Babat Pak Lis di Kota Semarang.
Selama libur Lebaran ini, produksi wingko babatnya meningkat hingga dua kali lipat atau 200 persen.
Baca Juga: Berikan Pelayanan Prima saat Libur Lebaran
“Sudah saya siapkan untuk lebaran, meningkat dua kali lipat,” jelas Pemiliki Rumah Produksi Wingko Babat Pak Lis, Suliman saat ditemui di Rumahnya, Kamis (3/4).
Untuk memenuhi permintaan yang melonjak, dalam sehari produksi di Wingko Babat Pak Lis mampu menghabiskan 200 kilogram kelapa.
Dari jumlah itu bisa menghasilkan hingga 20 ribu pcs wingko babat untuk dijual.
“Sehari biasanya cuma 50 kilogram kelapa, ini bisa 200 kilogram kelapa,” imbuhnya.
Saat Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke Rumah Produksi yang berada di Jalan Satria Utara IV, Plombokan, Semarang Utara ini aktifitas produksi masih berlangsung.
Karyawan berjejer rapi sedang mengemas wingko babat yang telah matang dari oven. Karyawan lainnya sedang mencetak adonan wingko babat, ada pula yang sedang sibuk memasukkannya ke oven untuk dibakar.
Baca Juga: Makanan Oleh-oleh Khas Semarang, Wingko Babat Ternyata Punya Sejarah Awal dari Jawa Timur
Suliman yang akrab disapa Pak Lis ini mengaku meski produksi mengalami kenaikan. Ia kesulitan mendapatkan bahan baku yakni kelapa.
Sebab harganya mengalami kenaikan menjadi Rp 30 ribu per kilogram.
Lonjakan harga yang signifikan ini pun berpengaruh terhadap harga jual wingko babat.
Pak Lis biasanya menjual Rp 15.000 untuk satu bungkus wingko babat yang berisi 20 pcs kepada tengkulak.
Kini ia pun menaikkan harga menjadi Rp 20 ribu, sedangkan harga jual di pasaran untuk pembeli Rp 25.000.
“Harganya per tas (bungkus) saya naikkan Rp 5000. Kemarin kan Rp 15.000 menjadi Rp 20.000 di tengkulak, kalau jualan harian (kepada pembeli) Rp 25.000,” ungkapnya.
Selama libur Lebaran rumah produksinya menambah dua orang karyawan pocokan saat weekend untuk memenuhi permintaan pasar.
Sebab pesanan sering kali melonjak. Kendati demikian, pria 72 tahun ini menyebut kenaikan permintaan wingko babat menurun dibanding Lebaran 2024 lalu.
“Ramai Lebaran tahun kemarin, karena ini pemudiknya saja berkurang,” akunya.
Baca Juga: Goa Kreo Semarang Diserbu Wisatawan saat Libur Lebaran
Pak Lis yang telah memproduksi wingko babat sejak 2002 ini pun terus berinovasi.
Kini sudah ada empat rasa wingko babat yang ia jual.
Yakni rasa kelapa, nangka, durian, dan coklat. Kendati demikian rasa original masih menjadi favorit.
“Pembedanya kita itu wingko babatnya paling manis, rasanya ada nangka, kelapa (original), coklat, dan durian,” tandasnya. (kap)
Editor : Tasropi