RADARSEMARANG.ID, Semarang - Warga Kelurahan Kandri Semarang saat ini tengah mengembangbiakan pepaya Hawaii yang rasanya tak kalah dengan Pepaya California dan Pepaya Thailand.
Pengelola kebun, Herman menjelaskan kebun yang memiliki luas 3 hektare ini dulunya ditanami tebu.
"Awalnya ada perusahan yang bekerja sama dengan Herman untuk menyebarkan Pepaya Hawaii tapi harus dengan organik. Kebetulan sama dengan misi saya," kata pria 57 tahun itu.
Dipilihnya penanaman Pepaya Hawaii atau yang aslinya berjenis Pepaya Cikita Arum karena merupakan varietas premium. Pepaya jenis ini sulit dijumpai di pasaran.
"Kita dapat menjumpai di supermarket yang kelas atas, di Semarang ini tidak semua supermarket menjual pepaya tersebut," jelasnya.
Papaya Hawaii biasa disebut dengan buah personal size atau sekali makan habis per buah. Bahkan paling besar hanya 0,75 - 1 kilogram per buahnya.
Memiliki warna yang merah dan sedikit bijinya. Memiliki tekstur kulit yang cukup tebal. Sehingga cara memakan Pepaya Hawaii cukup unik.
Yakni seperti makan buah alpukat. Tidak dikupas, hanya dibelah langsung disendok.
Harga Pepaya Hawaii Rp 28 ribu per kilogramnya. "Kalau ambil di sini untuk dijual kembali Rp 15 ribu per kilogramnya," jelasnya.
Kebun yang sudah dikelola 2,5 tahun ini dikelola bersama lima warga Kandri. Menggunakan perawatan yang organik, seperti pupuk, maupun penanganan hama.
Selain Pepaya Hawaii, Herman bersama tim juga mengembangkan Pepaya California dan Pepaya Thailand.
Pepaya California ini memang cukup familiar di masyarakat. Teksturnya lembut, agak lembek.
Sedangkan Pepaya Thailand itu cukup keras. "Harga Pepaya California dan Pepaya Thailand ini sama, Rp 7 ribu perkilogram," ujarnya.
Penjualan pepaya hasil kebun mencapai 1 kwintal per harinya. "Ada yang diambil oleh bakul, ada yang ke supermarket," tandasnya.
Herman mengimbau untuk masyarakat yang peduli dengan kesehatan, mengonsumsi pepaya dengan bijinya. "Bijinya langsung dimakan itu tidak ada masalah, untuk kesehatan malah lebih bagus," jelasnya.
Selain itu, dunia pertanian yang ia geluti akan merambah ke penanaman melon, sayur-sayuran dan lainnya yang terintegrasi dengan organik.
"Karena di kebun ini sudah terintegrasi dengan kambing, sapi, dan mau memulai ayam," akunya.
Sementara itu, Camat Gunungpati, Sabar Tri Mulyono menambahkan adanya Festival Durian akan menjadi cikal bakal festival buah dan sayur.
"Karena Gunungpati ini memang menjadi daerah pertanian yang masih asri, sehingga kami akan melakukan festival untuk mengembangkan potensi yang ada," ungkapnya. (fgr/bas)
Editor : Baskoro Septiadi