RADARSEMARANG.ID, Semarang - Secara resmi, Terminal Terboyo sudah tidak lagi digunakan sebagai terminal bus pengangkut penumpang di Kota Semarang. Aktivitas terminal sudah dipindah ke Terminal Mangkang.
Tapi penumpang bus antarkota, terutama yang ke arah timur, masih banyak yang menunggu bus di eks Terminal Terboyo.
Termasuk di masa mudik Lebaran tahun ini. Calon penumpang bus masih memadati pintu masuk menuju eks Terminal Terboyo.
Banyaknya penumpang juga membuat bus-bus AKDP maupun AKAP ngetem di jalan tersebut. Terminal Terboyo Bayangan masih berdenyut hingga saat ini.
Salah satu penumpang yang ditemui Jawa Pos Radar Semarang di terminal bayangan ini adalah Cici.
Ia dan keluarga dari Bumiayu, Brebes dan ingin mudik ke Pati. Dari Bumiayu ke Semarang, ia naik kereta api. Lantas disambung bus. Dan eks Terminal Terboyo jadi jujukannya.
"Di Terminal Terboyo lebih praktis, mas. Saya kalau ke Pati mesti ke Terminal Terboyo," katanya.
Calon penumpang lain, Uswatun Hasanah mengaku sejak 2019 mudik ke Pati dengan naik bus dari Terminal Terboyo.
"Karena lebih hemat, kalau ekonomi Rp 25 - 30 ribu, kurang lebih tiga jam perjalanan. Menunggunya tergantung busnya," katanya.
Baca Juga: Optimalkan Pompa, Banjir di Jalan Kaligawe Raya Semarang Berangsur Surut
Sementara itu, penjual tiket bus, Min Harum, menjelaskan, arus mudik biasanya H-1 hingga H+2 lebaran. Saat itu bisa dikatakan “panen” penumpang. "Saya sudah 40 tahun bekerja di Terminal Terboyo," akunya.
Min mengeluh karena Terminal Terboyo sudah tidak beroperasi menjadi terminal bus. "Dulu enak, ada tempate, sekarang malah pangkalan truk, saya harap ada terminal lagi. Karena di Terminal Terboyo ini dekat dengan pelabuhan maupun bandara," katanya.
Senada, Prasnawi, perwakilan Terminal Terboyo, mengungkapkan sudah 40 tahun berkecimpung di dunia armada bus.
"Sejak di (Terminal) Jurnatan, mas. Sudah tahu semua permasalahan yang ada di terminal," katanya.
Dikatakan, penempatan Terminal Mangkang kurang tepat. Karena armada dari timur seharusnya terminal busnya berada di timur. "Masak jalur timur, terminalnya di wilayah barat?," katanya.
Selain itu, bus harus menghitung jam perjalanan yang harus ditempuh. Misalnya bus jurusan Surabaya – Semarang yang harus menambah waktu tempuh dari Terminal terboyo hingga Terminal Mangkang bolak balik. Masih juga melewati jalur padat dan rawan macet.
“Jika di Terminal Mangkang kalau putar balik, pasti harus oyak-oyakan, akhirnya terjadi kecelakaan," katanya.
Ia menilai, pihak yang dirugikan dengan tidak aktifnya Terminal Terboyo adalah rakyat kecil. Seperti pekerja, mahasiswa dan pelajar.
Sebab mereka harus merogoh kocek lebih dalam karena biaya perjalanan bus lebih jauh.
Padahal, kata Prasnawi, dulu Terminal Terboyo mendapat predikat terminal termegah dan termewah se-Asia Tenggara.
"Tahun 2000-an, mas, menjadi kebanggaan masyarakat Kota Semarang," katanya.
Pada waktu Terminal Mangkang dibuka tujuh tahun lalu, ia pernah mencoba pindah. Ternyata kosong, tidak ada penumpang.
"Karena terminal ini kan harus menampung semua armada, ternyata kosong," katanya.
"Kami berharap kembalikan Terminal Terboyo seperti semula, masak dijadikan pangkalan truk yang notabene (milik) pengusaha. Kan terminal ini kan untuk masyarakat kecil," tambahnya. (fgr/ton)
Editor : Baskoro Septiadi