Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Gus Mus: Jangankan Seniman, Ustaz Aja Ada yang 'Eror'

Muhammad Iqbal Amar • Sabtu, 13 Januari 2024 | 18:00 WIB
KH Mustofa Bisri saat membacakan puisi berjudul
KH Mustofa Bisri saat membacakan puisi berjudul

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Tensi perpolitikan di Indonesia meningkat menjelang Pemilu 2024. Kondisi itu membuat lapisan masyarakat mudah terkotak-kotakan dan menyebabkan disintegrasi bangsa.

Termasuk tokoh agama hingga seniman pun turut terlibat politik praktis. Gus Mus pun meminta masyarakat tidak larut dalam dinamika politik serta menghadapi pemilu dengan kepala dingin.

"Perpolitikan ini begitu kenceng, jadi masyarakat digiring seolah seperti sekarang ini. Padahal lima tahunan wis biasa, kalau disikapi berlebihan akal budi dan nurani kita lewat gak bisa mikir lagi karena terlalu ke sana," kata Kiai asal Rembang itu usai Silaturahmi Kebudayaan yang digelar Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jateng (FWPJT) di TBRS Semarang, Jumat (12/1) malam.

Gus Mus juga meminta masyarakat yang berbeda pilihan capres-cawapres supaya jangan saling menjelekkan.

Menurutnya, akar perilaku saling menjelekkan adalah berlebihan menyikapi sesuatu termasuk dukung-mendukung jagoan pilpres.

"Jangan sampai gara-gara beda pilihan politik jadi renggang. Persatuan dan kemanusiaan itu pokok, adakah prinsip yang lebih mulia dari itu?," ujar Gus Mus melontarkan pertanyaan retoris.

Dinamika politik juga menyeret sejumlah pemuka agama dan budayawan terlibat politik praktis.

Gus Mus hanya menanggapi santai bahwa fenomena itu adalah hal yang biasa dan sangat manusiawi.

"Jangankan Seniman, ustaz juga ada yang eror. Hanya saja kita berupaya jangan sampai semuanya eror," tandasnya.

Gus Mus sendiri menegaskan bahwa tidak akan berpolitik praktis dengan cara apapun. Selama ini, dirinya juga tidak menyatakan dukungan kepada siapapun.

Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa ditarik kemana-mana. Kalaupun ada yang mengeklaim ditarik oleh Gus Mus maka dia sedang mempermalukan dirinya sendiri.

"Semua orang tahu saya nggak bisa ditarik-tarik oleh siapa pun. Kecuali sama seniman, karena seniman nggak pake neko-neko kan, dia pakai rasa saja," jelas Gus Mus.

Dalam acara itu, Gus Mus membacakan puisi berjudul, "Apakah Kau Terlalu Bebal, atau Aku Terlalu Peka". Puisi tentang Palestina yang berisi pesan kemanusiaan. Selain itu juga menyinggung perilaku politisi negeri dan korupsi.

Gus Mus juga sempat melontarkan kritikan bahwa bangsa Indonesia tidak kreatif. Ketika Orde Baru berkuasa mengangkat ekonomi sebagai panglima. Setelah reformasi kembali mengangkat politik sebagai panglima.

"Nggak kreatif, kenapa sekali-kali tidak mengangkat budaya sebagai panglima. Padahal budaya lah yang paling mengedepankan rasa. Dan rasa itulah yang mengingatkan kita sebagai manusia yang dimuliakan tuhan," pungkasnya.

Selain Gus Mus, beberapa seniman dan budayawan juga membacakan puisi Palestina sekaligus bernada kritik dinamika politik saat ini. Diantaranya Sutanto Mendut, Sosiawan Leak, Timur Sinar Suprabana, dan lainnya.(mia)

Editor : Tasropi
#Budayawan #Gus Mus #pilpres 2024 #politik #SENIMAN #Pemilu2024 #Indonesia