RADARSEMARANG.ID, Semarang - Aksi dua bus Trans Semarang dan Trans Jateng viral di sosial media karena diduga melawan arah di kawasan Jalan Dr. Cipto, Rabu (27/12).
Selain melawan arah, dalam video yang beredar, dua bus ini juga sempat menghalangi ambulans yang sedang membawa pasien.
Seorang pengendara tampak meminta kedua bus untuk minggir dan memberikan jalan kepada ambulanse serta pengguna jalan.
Kepala Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Trans Semarang Haris Setyo Yunanto mengaku telah melakukan pengecekan, dan kesalahan ada pada armadanya.
"Setelah kami croscek, itu ceritanya memang kesalahan ada di pihak kami," katanya saat dihubungi, Kamis (28/12).
Dari keterangan yang ada, ketika saat itu lampu lalu lintas menyala hijau, sejumlah kendaraan mengambil contra flow dan masuk jalur kanan. Termasuk bus Trans Semarang dan Trans Jateng.
"Harapannya mungkin supaya (segera) jalan, tapi ternyata di depannya ada ambulans. Kami dari manajemen minta maaf, dan akan kita lakukan tindak lanjut," jelasnya.
Ia menjelaskan, driver yang dianggap netizen ugal-ugalan ini langsung diberhentikan serta diganti dengan driver baru.
"Jadi driver kami berhentikan sementara sampai proses administrasi jadi. Apakah driver bisa lanjut lagi atau enggak, nanti menunggu adminsitrasi," jelasnya.
Sementara itu, salah satu pengguna Trans Semarang Yuktiasih Proborini cukup menyesalkan adanya kejadian yang viral tersebut. Wanita yang juga ketua Sejiwa Foundation ini meminta agar ada evaluasi dari manajemen.
"Ini harus ada perbaikan, biar nggak ugal-ugalan. Toh dulu bisa kalem dan nyaman," pintanya.
Baca Juga: Rute Trans Jateng Kudus-Pati hingga Lasem segera Direalisasikan
Sebagai layanan publik, wanita yang juga pemerhati disabilitas tersebut meminta Trans Semarang konsistensi memberikan layanan yang prima kepada masyarakat.
Pasalnya, beberapa waktu lalu di akun Instagram @transsemarang , sempat ada pengumuman jika saat Natal (25/12) kemarin, layanan diliburkan. Namun selang beberapa hari, kembali ada pemberitahuan jika layanan tetap beroperasi.
"Sebuah kebijakan ini harus diambil berdasarkan kajian, mungkin saya ini jadi imbas dari yang ramai di sosial media. Jadi harus ada evaluasi," jelasnya. (den/ton)
Editor : Baskoro Septiadi