RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Ratusan pemuda dan pemudi melakukan aksi bela Palestina di depan Politeknik Negeri Semarang (Polines) Jalan Prof Sudarto, Tembalang, Kota Semarang.
Mereka melakukan aksi teatrikal, orasi, hingga pantomim sebagai bentuk ekspresi protes keras terhadap penajajahan Israel terhadap Palestina.
Sekitar 300 pemuda dan pemudi memadati area depan Polines sejak pukul 13.00 WIB. Mereka terdiri dari gabungan pelajar Sekolah Alam Ar-Ridho, menggandeng pelajar disekitar Kecamatan Tembalang.
Selain itu aksi ini juga berkolaborasi dengan berbagai organisasi pemuda dan kemanusiaan seperti UIN Semarang, HIMA PERSIS, Aksi Insan Mulia, Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), Human Initiative (HI), dan Salamaid.
“Yang terlibat dalam aksi ini siswa-siswa dari Sekolah Alam Ar Ridho, SD kelas VI sampai SMP kelas IX, kemudian Sekolah Muda Mandiri Kelas X sampai kelas XII, trus kami berkolaborasi dengan sekolah sekolah disekitaran Tembalang, ada SMP IT Bunayya, SMP IT Tunas Harapan, SD Bunaya, ada mahasiswa dari UIN Semarang, terus ada Himpunan Mahasiswa dari Persis, ada juga empat Lembaga Kemanusiaan yang terlibat yaitu, Inisiatif Jagat Indonesia, Human Inisiatif, Salam Aid lembaga kemanusiaan dari Jaringan Sekolah Alam Nusantara, dan AIM Aksi Insan Mulia” Jelas Widiyawati, Penanggung Jawab aksi dari Sekolah Alam Ar-Ridho.
Dengan membawa atribut bendera Palestina dan poster kekejaman Israel mereka menyuarakan keberpihakan sebagai bentuk solidaritas kepada Palestina.
Selain itu replika bendera Israel diletakkan di tanah dan diinjak serta diberi tanda silang merah sebagai ekspresi protes keras atas kekejaman terhadap bayi, anak-anak, remaja, hingga pemuda Palestina.
Penanggung Jawab Aksi Widyawati mengungkapkan, pihaknya memang sengaja menggelar aksi beriringan dengan momen Sumpah Pemuda.
Hal itu mengandung spirit bahwa para leluhur dan pahlawan Indonesia sejak 95 tahun yang lalu sudah menyuarakan kemerdekaan. Pentingnya tanah air dan kemanusiaan yang mutlak dimiliki bagi sebuah negara.
"Karena setiap Senin kita belajar dari upacara bahwa penjajahan diatas dunia harus dihapuskan," tutur Widya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Aksi bela Palestina dilakukan agar masyarakat dunia tahu bahwa Israel jelas sebagai penjajah yang merenggut hak warga Palestina yang setengah mati susah merdeka.
Sebagai warga negara Indonesia menurutnya hanya bisa memberikan dukungan doa, moril, aksi, dan penggalangan dana.
"Jangan sampai hanyaa menjadi suatu tataran teori yang terpisah dari kehidupoan masyarakat," imbuh Widya.
Disisi lain, kata Widya, dilibatkannya generasi muda sebagai bentuk aksi nyata Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Para siswa harus tahu dan paham bahwa mereka memastikan dirinya dengan berani menunjukkan keberpihakan kepada yang benar.
"Tidak menginjak-injak nilai kemanusiaan dengan merenggut kebebasan negara lain," tandasnya.
Melalui serangkaian aksi teatrikal, deklamasi, pantomim, pembagian bunga duka cita, penandatangan keberpihakan, orasi, dan ditutup dengan doa itu hendak menyuarakan bahwa anak Palestina juga memiliki hak yang sama.
Selama penjajahan belum usai maka keberpihakan Sekolah Alam Ar-Ridho juga belum usai.
"Maka kita tunjukkan dukungan semampu kita baik moril, dana, dan doa," pungkasnya. (mg16/cc/mia/tas)
Editor : Tasropi